KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA — Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter yang berlaku sejak 10 Juni 2026 mulai memicu kekhawatiran terhadap daya beli masyarakat. Lonjakan harga hampir Rp4.000 per liter itu dinilai berpotensi menambah beban ekonomi warga di tengah pendapatan yang tidak ikut meningkat.
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti, menilai kenaikan harga BBM tidak hanya berdampak pada biaya transportasi masyarakat, tetapi juga berpotensi memicu kenaikan harga kebutuhan pokok dan biaya hidup lainnya.
“Secara umum pasti semua menjerit ya. Apalagi kenaikannya cukup tinggi. Padahal masyarakat membutuhkan BBM untuk bekerja, beraktivitas, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujarnya, Selasa (16/6/2026).
Menurut Sri Puji, dampak yang paling dikhawatirkan adalah efek berantai terhadap kebutuhan rumah tangga. Ketika harga BBM naik, biaya distribusi barang ikut terdorong sehingga berpotensi memengaruhi harga sembako hingga berbagai layanan masyarakat.
“Kalau kemudian ada kenaikan kebutuhan-kebutuhan lain, misalnya sembako, listrik dan sebagainya, tentu akan semakin mempersulit masyarakat. Pendapatan mereka belum tentu naik, tapi kebutuhan hidup terus bertambah,” jelasnya.
Ia mengaku memang belum menerima laporan resmi terkait dampak kenaikan Pertamax. Namun, dari berbagai percakapan dan kondisi yang ditemuinya di lapangan, mulai muncul keluhan masyarakat yang merasa ruang gerak ekonominya semakin sempit.
Bahkan, sebagian warga disebut mulai mengubah pola mobilitas sehari-hari untuk menghemat pengeluaran.
“Misalnya yang sebelumnya menggunakan mobil, sekarang memilih naik motor. Itu menunjukkan masyarakat mulai melakukan penyesuaian karena biaya hidup yang harus mereka keluarkan semakin besar,” tuturnya.
Sri Puji berharap pemerintah dapat mengantisipasi dampak lanjutan kenaikan BBM terhadap kesejahteraan masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan menengah ke bawah yang paling rentan terdampak oleh kenaikan biaya hidup.
“Yang kita khawatirkan bukan hanya harga BBM-nya, tetapi efeknya terhadap kebutuhan masyarakat secara keseluruhan,” demikian Sri Puji. (mell/ADV25/dprdsamarinda)