KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Sebanyak 270 siswa baru Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Samarinda resmi memulai Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di gedung permanen yang berlokasi di Jalan Stadion Utama, Palaran, Kamis (31/7/2026). Rangkaian MPLS dijadwalkan berlangsung hingga (16/7) sebelum para siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar secara penuh.
Setelah setahun menjalankan kegiatan belajar mengajar di sekolah rintisan, tahun ajaran 2026/2027 menjadi awal pemanfaatan kompleks baru yang dibangun Kementerian Sosial.
Program pendidikan berasrama itu dinilai bukan hanya membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, tetapi juga meringankan beban ekonomi orang tua.
Seluruh kebutuhan siswa, mulai dari biaya pendidikan, tempat tinggal hingga konsumsi sehari-hari ditanggung pemerintah, sehingga keluarga tidak lagi dibebani biaya sekolah seperti pada umumnya.
Sekretaris Daerah Kota Samarinda, Neneng Chamelia Shanti, mengatakan manfaat Sekolah Rakyat tidak hanya dirasakan saat ini, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang dalam menyiapkan sumber daya manusia yang lebih baik.

“Ini bukan cuma membantu perekonomian keluarga. Ke depannya kita membina anak-anak kita untuk jadi stok sumber daya manusia yang berkualitas,” ujarnya.
Meski sudah mulai digunakan, Pemkot Samarinda masih memberikan sejumlah catatan terhadap bangunan sekolah.
Hasil peninjauan menunjukkan pekerjaan fisik telah rampung, namun beberapa bagian dinilai masih perlu penyempurnaan, terutama yang berkaitan dengan keselamatan siswa yang akan tinggal dan beraktivitas di lingkungan sekolah selama 24 jam.
Neneng mencontohkan area tangga, sisi lantai dua yang masih terbuka, hingga bagian bawah tangga yang perlu diberi pelindung maupun penanda berwarna kontras agar lebih aman. Menurutnya, detail semacam itu penting mengingat penghuni sekolah didominasi anak-anak.
“Gedungnya sudah selesai dan siap digunakan. Hanya ada sedikit catatan terkait keselamatan anak-anak, seperti pengamanan di tangga dan beberapa titik yang perlu ditambah pembatas,” katanya.
Selain bangunan, pemerintah juga mulai menyiapkan sistem pendukung operasional sekolah. Pengelolaan sampah serta air limbah akan dibahas bersama Kementerian Sosial dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur agar memiliki pola pengelolaan yang jelas ketika aktivitas sekolah berjalan penuh.
Disisi lain, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Samarinda, Mochammad Arief Surochman, mengatakan rangkaian MPLS akan dilanjutkan dengan pemeriksaan kesehatan seluruh siswa baru pada Jumat (31/7/2026). Pemeriksaan tersebut menjadi bagian dari tahapan awal sebelum para siswa mengikuti kegiatan belajar secara normal.
“Besok dijadwalkan cek kesehatan untuk anak-anak yang baru datang,” ujarnya.
Dari 270 siswa baru yang diterima tahun ini, sebanyak 222 orang berasal dari Kota Samarinda, sedangkan 48 lainnya berasal dari Balikpapan, Kutai Kartanegara, Penajam Paser Utara hingga Kabupaten Paser.
Sementara itu, siswa angkatan pertama yang selama ini belajar di sekolah rintisan masih menunggu jadwal perpindahan ke gedung baru setelah seluruh kesiapan operasional dinyatakan tuntas.
“Dengan kondisi bangunan yang baru seperti ini, saya pikir orang tua mana yang tidak mau melihat sekolah seperti ini,” tuturnya.
Sekolah Rakyat, kata Arief, juga tetap menjadi ruang pendidikan bagi anak-anak dari kelompok rentan, termasuk anak jalanan. Pada angkatan sebelumnya, sejumlah anak jalanan telah mengikuti pendidikan di sekolah tersebut dan sebagian besar masih bertahan hingga kini.
Menurutnya, pembinaan terhadap mereka tidak cukup hanya dilakukan pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan sekolah, keluarga hingga lingkungan tempat tinggal agar anak-anak mampu menyelesaikan pendidikan dengan baik.
“Anak-anak jalanan tetap menjadi perhatian kami. Memang mereka menjadi salah satu sasaran program ini dan akan terus kami dampingi bersama sekolah maupun lingkungan tempat tinggalnya,” tutupnya. (mell)