KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Warga Jalan Belimau, RT 21, Gang Joyo, Kelurahan Lempake, Samarinda Utara, harus merogoh Rp100 ribu setiap kali membeli satu mobil air bersih. Dalam sebulan terakhir, Wati, salah seorang warga, sudah tiga kali membeli air setelah sumur di rumahnya mengering.
Kondisi tersebut dialami warga yang hingga kini belum terjangkau jaringan ledeng. Sebelum sumur mengering, sumber air itu menjadi andalan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari mencuci hingga menyiram tanaman.
Wati mengatakan, warga sebelumnya telah mengusulkan pemasangan jaringan ledeng melalui ketua RT. Namun, rencana tersebut belum terealisasi karena biaya pemasangan pipa disebut cukup mahal.
“Di sini kan enggak ada ledeng. Kita sudah usulkan sama Pak RT, tapi katanya terlalu mahal kalau mau dimasukkan pipa,” kata Wati, Senin (14/9/2026).
Ketiadaan jaringan ledeng membuat sumur menjadi satu-satunya pilihan warga. Namun, memasuki kemarau, debit air terus menyusut hingga sekitar sebulan terakhir tidak lagi bisa digunakan.
“Awal kemarau itu masih bisa, masih ada airnya. Bisa dipakai untuk siram-siram kembang, cuci piring. Tapi selama sebulan ini sama sekali enggak dipakai lagi karena sudah tidak ada sama sekali airnya,” ujarnya.
Untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, Wati memilih membeli air dengan harga sekitar Rp100 ribu sekali angkut. Dalam satu bulan, sedikitnya Rp300 ribu telah dikeluarkannya untuk membeli air.
Air dari satu mobil biasanya digunakan untuk mandi, mencuci hingga kebutuhan rumah tangga lainnya. Sementara kebutuhan memasak dipenuhi menggunakan air galon.
Karena rumahnya hanya dihuni dua orang, satu mobil air dapat bertahan sekitar 10 hari lebih. Lama pemakaian bergantung pada jumlah penghuni dan kebutuhan masing-masing rumah.
“Kalau saya kan cuma berdua. Jadi satu mobil itu kadang 10 hari lebih. Tergantung banyaknya cucian,” tuturnya.
Pengeluaran warga lain bahkan bisa lebih besar. Wati menyebut ada warga yang selama kemarau telah membeli air hingga empat bahkan lima kali.
Kondisi itu membuat bantuan air bersih dari BPBD Samarinda menjadi pasokan penting bagi warga. Kedatangan mobil tangki menjadi kesempatan bagi warga untuk mendapatkan tambahan air tanpa harus kembali mengeluarkan biaya pembelian.
Wati mengaku bersyukur ketika bantuan air bersih tersebut datang ke lingkungannya. Menurut dia, air sudah menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda karena sumur warga tidak lagi dapat diandalkan.
“Alhamdulillah, terima kasih banyak. Kita senang kalau dapat air kayak ini. Karena kita butuh air di sini,” katanya.
Bagi Wati, persoalan air bukan sekadar ketidaknyamanan selama musim kemarau. Ketika sumber air mengering, warga harus mengeluarkan uang berulang kali agar kebutuhan dasar di rumah tetap terpenuhi.
“Butuh betul mendesak, terutama air yang dibutuhkan di sini,” tegas Wati. (mell)