desain sukseskan kukar idaman terbaik

Pesawat OMC Siaga di Bandara APT Pranoto, Awan Potensial Hujan Dipantau 24 Jam

whatsapp image 2026 09 16 at 11.18.14
Kepala Pelaksana BPBD Samarinda, Suwarso. (Foto: mell/Kaltimvoice.id)

KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Pesawat operasi modifikasi cuaca (OMC) mulai siaga di Bandara Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto Samarinda untuk mengejar setiap potensi hujan di Kalimantan Timur. Pemantauan awan dilakukan selama 24 jam agar penyemaian garam bisa langsung dilakukan ketika ditemukan awan yang berpeluang menghasilkan hujan.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda Suwarso mengatakan, pesawat Cessna Caravan 208B telah berada di APT Pranoto sejak Senin (14/9/2026) malam. Sementara sekitar 60 ton material garam untuk penyemaian awan tiba di bandara pada Selasa pagi.

“Dari sisi pilotnya siap, semuanya siap. Saat ini sedang menunggu memantau potensi awan, potensi pembentukan awan yang berpotensi menjadi hujan,” kata Suwarso kepada Kaltimvoice.id, Selasa (16/9/2026).

Pemantauan yang semula direncanakan berlangsung pukul 07.00 hingga 20.00 WITA diperluas menjadi 24 jam atas permintaan otoritas bandara. Tim akan mencari titik awan yang memiliki potensi berkembang menjadi hujan, kemudian pesawat dikerahkan sesuai jangkauan operasionalnya.

Artinya, OMC tidak hanya menunggu munculnya awan dalam jumlah besar. Setiap peluang pembentukan awan yang dinilai memiliki potensi hujan akan menjadi sasaran penyemaian.

“Perintah Kepala BNPB jelas, sekecil apa pun potensinya harus tetap dilakukan operasi modifikasi cuaca. Ini karena memang kekeringannya kita itu sudah berbeda dengan tahun 2015,” ujarnya.

Operasi tersebut disiapkan untuk periode 15–19 September 2026, mengikuti prediksi BMKG terkait peluang terbentuknya awan yang berpotensi menghasilkan hujan.

Pesawat dipusatkan di APT Pranoto, tetapi penerbangannya dapat diarahkan ke wilayah lain di Kaltim yang terpantau memiliki potensi awan dan masih berada dalam kemampuan jangkauan pesawat.

“Jadi seluruhnya dipantau mana yang berpotensi, akan terbang ke sana. Tentunya sesuai dengan jarak-jarak yang ditetapkan atau kemampuan dari pesawat yang ada ini,” jelasnya.

Suwarso menegaskan kesiapan OMC menjadi bagian dari penanganan kekeringan yang saat ini masih berlangsung. Pemantauan dilakukan secara aktif agar peluang hujan yang muncul tidak terlewat.

Selain OMC, armada water bombing juga masih disiagakan untuk menangani titik api yang sulit dijangkau satgas darat, termasuk kawasan seperti tempat pembuangan akhir (TPA). Namun, armada tersebut belum dapat bergerak pada Selasa karena kantong air mengalami gangguan teknis.

“Water bombing hari ini belum bisa bergerak karena kantong airnya mengalami trouble sedikit. Tapi tetap terus dilakukan. Mudah-mudahan nanti kalau ada titik api yang sulit dijangkau dengan satgas darat, water bombing akan bekerja,” pungkas Suwarso. (mell)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *