merah hitam putih modern berita terkini banner youtube

SAMAQUA Mulai Dipasarkan, Intip Proses Air Minum Kebanggaan Samarinda Diproduksi

5a3f0c1b 519f 4684 9c7b 92e2d6253715
Proses pengemasan air minum dalam kemasan (AMDK) SAMAQUA yang berlangsung secara otomatis. (Foto: mell/Kaltimvoice.id)

KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – SAMAQUA resmi dipasarkan sebagai produk air minum dalam kemasan (AMDK) milik Perumdam Tirta Kencana Kota Samarinda, Rabu (5/7/2026) kemarin. Di balik sebotol air minum itu, air yang selama ini didistribusikan kepada pelanggan Perumdam kembali diolah melalui serangkaian penyaringan berlapis, sementara botol kemasannya diproduksi sendiri di Samarinda.

Sistem produksi tersebut diterapkan di pabrik AMDK SAMAQUA yang berada di kawasan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Kalhol, Palaran. Seluruh proses, mulai dari pencetakan botol, pengolahan air, pengisian hingga pengemasan, dilakukan dalam satu kawasan produksi sebelum akhirnya produk dipasarkan kepada masyarakat.

Salah satu tahapan awal produksi SAMAQUA dimulai dari pencetakan botol. Alih-alih menggunakan botol yang sudah jadi, Perumdam mendatangkan preform atau calon botol yang kemudian dicetak sendiri menggunakan mesin khusus di pabrik.

Kepala Pabrik AMDK SAMAQUA IPA Kalhol, Amin Ma’ruf, mengatakan langkah tersebut dipilih karena jauh lebih efisien dari sisi distribusi bahan baku sekaligus memberi keleluasaan dalam menentukan desain maupun ukuran kemasan.

“Kalau botol jadi satu kontainer hanya sekitar 60 ribu botol. Tapi kalau masih berupa preform bisa sampai 600 ribu. Jadi jauh lebih efisien,” ujarnya.

Setelah botol selesai dicetak, proses berlanjut pada pengolahan air baku. Air yang digunakan bukan berasal langsung dari sungai, melainkan air hasil olahan IPA Kalhol yang selama ini mengalir ke rumah-rumah pelanggan.

Meski sudah memenuhi standar air bersih, air tersebut kembali dimurnikan melalui sejumlah tahapan penyaringan sebelum layak menjadi air minum dalam kemasan.

Perjalanan air dimulai dari media green sand, pasir khusus yang didatangkan dari Amerika Serikat untuk menangkap kandungan logam seperti mangan dan zat besi yang masih mungkin tersisa pada air baku. Setelah itu, air dialirkan menuju filter karbon berbahan arang batok kelapa yang berfungsi menghilangkan bau sekaligus menghasilkan rasa air yang lebih netral.

Tahapan berikutnya menggunakan penyaringan bertingkat dengan pori 10 mikron, 5 mikron hingga 1 mikron. Air kemudian masih harus melewati sistem ultrafiltrasi menggunakan membran yang jauh lebih halus agar partikel-partikel kecil maupun bakteri dapat tersaring secara maksimal.

Proses pemurnian belum berhenti di sana. Air kembali disterilisasi menggunakan sinar ultraviolet dan oxygen generator yang berfungsi membunuh bakteri sekaligus menjaga kadar oksigen di dalam air agar kualitasnya tetap terpelihara.

“Karbon yang kami gunakan berbahan nabati dari arang batok kelapa. Jadi bukan hewani, sehingga lebih terjamin dan membantu menyaring bau maupun rasa,” jelas Amin.

Menariknya, sejak botol kosong masuk ke jalur produksi hingga akhirnya tertutup rapat, seluruh proses berlangsung tanpa sentuhan tangan. Mesin mengambil alih setiap tahapan mulai dari pembilasan botol, pengisian air hingga penutupan kemasan.

“Botol kosong sampai terisi dan tertutup itu semua dikerjakan mesin. Tidak ada proses yang bersentuhan langsung dengan tangan,” katanya.

Produk yang telah selesai dikemas pun belum langsung dipasarkan. Seluruh hasil produksi terlebih dahulu dikarantina selama 24 jam untuk memastikan kualitasnya tetap aman sebelum didistribusikan.

“Kalau setelah satu kali 24 jam aman, insyaallah kualitasnya akan tetap terjaga,” tambahnya.

Saat ini pabrik didukung 12 tenaga kerja yang menangani produksi, pengemasan, pergudangan hingga pemasaran. Mesin pencetak botol memiliki kapasitas sekitar 2.000 botol per jam, sementara mesin pengisian mampu memproduksi hingga 3.000 botol per jam. Untuk kemasan galon, kapasitas produksinya mencapai 120 galon setiap jam.

Direktur Pelayanan Perumdam Tirta Kencana Samarinda, Widyastuti Supartinah, mengatakan SAMAQUA mulai dipasarkan sejak diluncurkan dengan tiga varian, yakni botol 220 mililiter, 330 mililiter dan galon. Ke depan, Perumdam juga menyiapkan kemasan berukuran sekitar 600 mililiter untuk melengkapi pilihan produk.

Saat ini kemasan 220 mililiter dipasarkan seharga Rp26 ribu per dus isi 24 botol, sedangkan kemasan 330 mililiter dijual Rp37.500 per dus isi 24 botol. Masyarakat dapat melakukan pemesanan melalui WhatsApp maupun pembayaran non tunai menggunakan QRIS sebelum nantinya distribusi diperluas melalui jaringan agen.

“Kami berharap SAMAQUA bukan hanya menjadi kebanggaan masyarakat Samarinda, tetapi juga bisa merambah daerah-daerah sekitar,” ujar Widyastuti.

Ia memastikan seluruh proses produksi telah memenuhi persyaratan yang ditetapkan pemerintah. Produk tersebut telah mengantongi Nomor Induk Berusaha (NIB), Standar Nasional Indonesia (SNI), izin edar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), serta sertifikat halal.

“Seluruh dokumen perizinan sudah lengkap. Jadi masyarakat tidak perlu ragu terhadap kualitas maupun keamanan produk ini,” pungkasnya. (mell)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *