KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digagas pemerintah pusat belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat Kalimantan Timur.
Meski setiap puskesmas ditarget mampu melayani hingga 30 peserta per hari, realisasi di lapangan justru masih jauh dari harapan. Rata-rata, satu puskesmas hanya melayani sekitar dua orang setiap harinya.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalimantan Timur, Jaya Mualimin, mengatakan rendahnya capaian tersebut bukan disebabkan minimnya kapasitas fasilitas kesehatan. Menurutnya, kendala terbesar justru berasal dari tingkat partisipasi masyarakat yang masih rendah.
Ia menjelaskan, sejak program diluncurkan sekitar satu setengah tahun lalu, jumlah warga yang mendaftarkan diri memang sudah mencapai sekitar 212 ribu orang. Namun, dari angka tersebut, baru sekitar 165 ribu yang benar-benar datang menjalani pemeriksaan kesehatan.
Jika dibagi ke 188 puskesmas yang ada di Kalimantan Timur, rata-rata kunjungan setiap fasilitas kesehatan hanya berkisar dua orang per hari.
“Setiap faskes itu sudah diminta maksimal 30 kunjungan satu hari. Tapi kita masih satu faskes cuma dua, kadang-kadang satu, kadang ada yang nol. Belum sampai pada targetnya yang 30,” ujar Jaya, Senin (27/7/2026).
Ia menegaskan, target tersebut bukan berarti setiap puskesmas diwajibkan mengisi kuota dengan cara apa pun. Pemerintah justru mengandalkan kesadaran masyarakat untuk datang memanfaatkan layanan pemeriksaan kesehatan secara sukarela.
Menurut Jaya, kebijakan CKG juga kini jauh lebih fleksibel dibanding saat pertama kali diluncurkan. Jika sebelumnya pemeriksaan hanya dapat dilakukan bertepatan dengan hari ulang tahun, kini masyarakat dapat datang kapan saja tanpa harus menunggu tanggal tertentu.
“Targetnya adalah masyarakat aktif. Dulu memang harus saat ulang tahun. Sekarang enggak. Bebas mau datang kapan saja. Minimal satu tahun satu kali,” katanya.
Ia menilai masih rendahnya angka kunjungan dipengaruhi beberapa faktor. Selain sosialisasi yang belum merata, akses menuju puskesmas dan anggapan bahwa proses pendaftaran rumit juga menjadi penyebab masyarakat enggan memanfaatkan layanan tersebut.
Padahal, lanjutnya, prosedur pendaftaran kini sudah dipermudah. Masyarakat tidak lagi diwajibkan mendaftar melalui aplikasi Satu Sehat, melainkan dapat langsung datang ke puskesmas untuk mengikuti pemeriksaan.
“Kendalanya mungkin pertama sosialisasi. Yang kedua puskesmas jauh. Yang ketiga mungkin masyarakat mengira harus daftar dulu lewat Satu Sehat. Sekarang enggak, langsung saja datang ke puskesmas untuk cek kesehatan gratis,” jelasnya.
Di sisi lain, Jaya juga menanggapi informasi yang beredar di media sosial mengenai adanya warga yang mengaku tercatat telah mengikuti CKG, padahal tidak pernah menjalani pemeriksaan. Ia memastikan pihaknya akan menelusuri setiap laporan yang masuk apabila memang ditemukan dugaan tersebut.
Jaya menjelaskan, seluruh aktivitas pelayanan kesehatan kini sudah terekam dalam sistem Satu Sehat. Karena itu, jika ditemukan data pemeriksaan yang tidak sesuai, penyebabnya harus dipastikan lebih dulu, apakah karena kesalahan sistem, kekeliruan identitas, atau adanya dugaan penyalahgunaan data.
Ia pun meminta masyarakat segera melapor apabila menemukan riwayat pemeriksaan atas nama dirinya, padahal tidak pernah mengikuti CKG.
“Kalau masih ada yang begitu, laporkan ke kita. Saya mau cek. Karena ini berbahaya, enggak diperiksa kok masuk. Semua aktivitas di faskes itu sudah tercatat di Satu Sehat,” tandasnya. (mell)