merah hitam putih modern berita terkini banner youtube

Sekolah Belum Rampung, Ratusan Siswa SDN 010 Palaran Masih Menumpang di SD Lain

img 20260425 wa0007
Negeri 010 Palaran. (Foto: mell/Kaltimvoice.id)

KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA — Aktivitas belajar siswa SD Negeri 010 Palaran hingga kini belum sepenuhnya kembali normal. Keterbatasan ruang kelas akibat pembangunan yang belum rampung memaksa ratusan siswa menjalani pembelajaran secara bergantian dengan menumpang di sekolah lain.

Sebagian siswa saat ini mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 024 Palaran pada siang hari. Sistem berbagi ruang diterapkan karena jumlah kelas yang tersedia tidak sebanding dengan kebutuhan.

“Sekarang kita masih menumpang, karena sekolah yang kita tempel itu hanya punya delapan ruang kelas, sementara kebutuhan kita ada dua belas,” ungkap Kepala SDN 010 Palaran, Sarti.

img 20260425 wa0006
Kepala Sekolah SD 010 Palaran, Sarti. (Foto: mell/Kaltimvoice.id)

Dalam praktiknya, satu ruang diisi sekitar 26 siswa dengan waktu belajar dimulai pukul 13.00 hingga 16.00 WITA. Sementara pagi hari digunakan untuk aktivitas administrasi sekolah. “Satu kelas itu sekitar 26 siswa, masuknya siang sampai sore. Kalau pagi digunakan untuk kepala sekolah dan tata usaha,” jelasnya.

Dengan jumlah siswa mencapai sekitar 300 orang, keterbatasan fasilitas membuat proses pembelajaran belum berjalan optimal. Kondisi ini menjadi konsekuensi dari pembangunan yang masih berlangsung sejak tahun lalu.

Sarti mengungkapkan, sebelum pembangunan dimulai, kondisi sekolah memang sudah tidak layak, bahkan menjadi satu-satunya sekolah di kawasan tersebut yang masih menggunakan bangunan kayu. “Sebelum direnovasi, kondisi sekolah ini rusak parah. Di Palaran, hanya sekolah ini yang bangunannya masih kayu,” tuturnya.

Proyek pembangunan yang dimulai pada 2025 itu sempat terkendala kondisi tanah. Kedalaman tiang pancang yang semula direncanakan 18 meter harus diperpanjang hingga 30 meter untuk mencapai tanah keras, sehingga berdampak pada alokasi anggaran.

“Awalnya direncanakan 18 meter sudah sampai tanah keras, ternyata harus sampai 30 meter. Akibatnya anggaran terserap di situ dan ada empat ruangan yang belum terbangun,” jelasnya.

Saat ini, pembangunan tahap awal baru menghasilkan sebagian ruang dari rencana total 14 ruangan, terdiri dari 12 ruang kelas serta fasilitas penunjang lainnya.

Lebih lanjut, Sarti berharap kelanjutan pembangunan dapat segera direalisasikan agar siswa tidak lagi belajar berpindah tempat. Selain itu, kebutuhan meubel juga menjadi perhatian karena sebagian perlengkapan belajar mengalami kerusakan.

“Harapannya sekolah kami cepat selesai dibangun, dan kalau bisa sekalian dengan meubelnya, karena yang ada sekarang sudah banyak yang rusak.” tutupnya. (mell)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *