merah hitam putih modern berita terkini banner youtube

Anak Putus Sekolah Tak Otomatis Masuk Kelas Sesuai Umur, Ini Skema Sekolah Rakyat Samarinda

whatsapp image 2026 08 01 at 12.32.35 (1)
Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Samarinda. (Foto: mell/Kaltimvoice.id)

KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Usia bukan lagi menjadi satu-satunya acuan penempatan kelas di Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Samarinda. Siswa yang berasal dari latar belakang putus sekolah, bahkan yang belum pernah mengenyam pendidikan formal, terlebih dahulu akan menjalani asesmen untuk mengetahui kemampuan dasar mereka sebelum ditentukan jenjang belajarnya.

Skema itulah yang menjadi salah satu alasan mengapa Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Rakyat digelar lebih panjang, yakni mulai 31 Juli hingga 16 Agustus 2026.

Selama dua pekan, siswa tidak hanya diperkenalkan dengan lingkungan sekolah dan kehidupan berasrama, tetapi juga menjalani asesmen kemampuan dasar, pemeriksaan kesehatan, hingga pembinaan karakter sebelum memasuki proses pembelajaran.

Kepala Sekolah Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Samarinda, Pahrizal, mengatakan asesmen menjadi tahapan penting karena kondisi peserta didik sangat beragam. Ada anak yang selama ini putus sekolah, ada pula yang sama sekali belum pernah bersekolah sehingga kemampuan membaca, menulis, dan berhitung tidak bisa disamaratakan.

“Anak-anak yang masuk di sini tidak semuanya pernah sekolah. Ada yang putus sekolah, ada juga yang belum pernah sekolah sama sekali. Karena itu kami tidak bisa langsung menempatkan mereka berdasarkan umur,” ujarnya kepada Kaltimvoice.id, Jum’at (31/7/2026).

whatsapp image 2026 08 01 at 12.32.35
Kepala Sekolah Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Samarinda, Pahrizal, saat menjelaskan skema asesmen bagi siswa baru sebelum penempatan kelas. (Foto: mell/Kaltimvoice.id)

Menurut Pahrizal, anak berusia 12 tahun, misalnya, belum tentu langsung ditempatkan di kelas yang sesuai usianya. Tim guru akan lebih dulu mengukur kemampuan akademik setiap peserta didik.

Jika hasil asesmen menunjukkan anak tersebut telah mampu membaca, menulis, dan berhitung dengan baik, sekolah akan menyesuaikan jenjang belajarnya agar tidak harus mengulang dari kelas paling dasar.

“Kalau umur 12 tahun langsung kita taruh di kelas satu, nanti lulusnya kapan? Makanya kami asesmen dulu kemampuan dasarnya, baru ditentukan kelas yang paling sesuai,” jelasnya.

Selain mengenali lingkungan sekolah, siswa juga menjalani Cek Kesehatan Gratis (CKG) sebagai data awal kondisi fisik mereka. Pemeriksaan meliputi tinggi badan, berat badan, lingkar kepala hingga kondisi kesehatan secara menyeluruh.

Data tersebut nantinya akan diperbarui setiap bulan untuk memantau perkembangan tumbuh kembang siswa selama mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat.

“Kami ingin tahu kondisi awal anak seperti apa dan setiap bulan akan diukur. Berat badannya naik atau tidak, tinggi badannya bertambah atau tidak. Semua itu kami laporkan secara berkala,” katanya.

Di luar asesmen akademik dan kesehatan, MPLS juga diisi pembelajaran kehidupan berasrama. Siswa dikenalkan pada kebiasaan hidup mandiri, mulai dari mencuci pakaian, menjaga kebersihan diri, menggunakan fasilitas asrama hingga membangun hubungan dengan teman lintas jenjang.

Pahrizal menuturkan, konsep Sekolah Rakyat memang dirancang menyerupai sebuah perkampungan. Karena itu, peserta didik SD, SMP, dan SMA tidak hanya belajar hidup bersama teman sekelas, tetapi juga membangun hubungan layaknya kakak dan adik.

“Kami ingin mereka bukan hanya mengenal sekolahnya, tetapi juga mengenal tetangganya, mengenal adik dan kakaknya. Jadi materi tentang karakter dan pencegahan bullying juga terus kami ulang selama MPLS,” tuturnya.

Untuk menjaga kenyamanan siswa saat mulai menempati gedung baru dan asrama, kedatangan peserta didik dilakukan secara bertahap.

Siswa yang berasal dari daerah jauh seperti Berau, Kutai Timur, Kutai Kartanegara, dan Paser didahulukan, sedangkan siswa dari Samarinda dijadwalkan menyusul setelah kondisi asrama lebih kondusif.

Langkah itu, kata Pahrizal, diambil agar anak-anak memiliki waktu beradaptasi dan tidak mengalami tekanan psikologis akibat langsung berada di lingkungan yang penuh sejak hari pertama.

“Yang kami pertimbangkan bukan hanya bangunannya, tapi juga psikologi anak. Kami ingin mereka merasa nyaman dulu sebelum seluruh siswa berkumpul di asrama,” pungkasnya. (mell)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *