merah hitam putih modern berita terkini banner youtube

Tak Punya Formasi Guru Bahasa Inggris, SDN 005 Loa Buah Khawatir Pengajarnya Terkendala Pengangkatan PPPK

whatsapp image 2026 08 13 at 12.47.55
Tampak depan gedung SD Negeri 005 Loa Buah, Sungai Kunjang, Samarinda. (Foto: mell/Kaltimvoice.id)

KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Ketiadaan formasi khusus guru Bahasa Inggris menjadi salah satu persoalan tenaga pendidik yang dihadapi SD Negeri 005 Loa Buah, Samarinda. Mata pelajaran tersebut tetap diajarkan, tetapi sekolah belum memiliki formasi khusus untuk guru Bahasa Inggris seperti di jenjang SMP.

Kondisi itu dikhawatirkan berdampak pada pengajar Bahasa Inggris ketika pemerintah membuka pengangkatan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

Persoalan tersebut disampaikan Kepala SDN 005 Loa Buah, Norman, saat menerima kunjungan Komisi IV DPRD Kota Samarinda bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), Rabu (12/8/2026).

Norman menjelaskan, pembelajaran Bahasa Inggris tetap berjalan di sekolah. Namun, di tingkat SD tidak tersedia formasi khusus untuk guru Bahasa Inggris. Selama ini, mata pelajaran tersebut ditangani oleh guru yang ada di sekolah.

“Bahasa Inggris ini ada. Cuma kan di SD ini tidak ada formasinya. Tidak seperti SMP, SMP kan ada guru Bahasa Inggrisnya khusus. Kalau di sini wali kelas yang megang,” kata Norman.

whatsapp image 2026 08 13 at 12.47.55 (2)
Kepala SD Negeri 005 Loa Buah, Norman. (Foto: mell/Kaltimvoice.id)

Menurutnya, persoalan mulai muncul ketika pengajar Bahasa Inggris tersebut nantinya mengikuti proses pengangkatan PPPK. Ketiadaan formasi khusus membuat guru yang selama ini mengajar mata pelajaran tersebut berpotensi tidak memiliki formasi yang sesuai.

“Kasihan nantinya begitu ada pengangkatan P3K, dia tidak punya formasi. Di SD tidak bisa diangkat,” ujarnya.

Jika kondisi itu terjadi, Norman menyebut pengajar Bahasa Inggris tersebut kemungkinan harus mencari penempatan di sekolah lain yang memiliki kebutuhan maupun formasi yang sesuai.

“Ya mungkin dimutasikan, cari kelas yang kosong,” kata dia.

Bagi Norman, kebutuhan terhadap guru Bahasa Inggris tetap ada meski formasi khususnya belum tersedia. Karena itu, persoalan tersebut dinilai perlu dicarikan jalan keluar agar kebutuhan pembelajaran siswa tetap terpenuhi sekaligus tidak menyulitkan guru yang selama ini menjalankan tugasnya.

Persoalan tenaga pendidik tersebut juga berkaitan dengan layanan pendidikan SDN 005 Loa Buah di Loa Kumbar. Sekolah di Loa Kumbar merupakan bagian dari SDN 005 Loa Buah yang dibuka untuk mengakomodasi warga Samarinda di wilayah tersebut. Namun, jumlah siswanya relatif sedikit sehingga kebutuhan tenaga pengajarnya juga terbatas.

Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, M Novan Syahronny Pasie, mengatakan sekolah di Loa Kumbar saat ini hanya memiliki dua guru. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena jumlah siswa yang sedikit turut berpengaruh terhadap pemenuhan tunjangan bagi tenaga pendidik.

“Kalau di SD ini permasalahannya di guru yang ada di Loa Kumbar karena mereka tidak dapat tunjangan karena yang diajar memang ada yang enam orang, ada yang empat orang,” ujar Novan.

Menurut Novan, keberadaan sekolah di Loa Kumbar tetap penting meski jumlah siswanya terbatas. Sekolah tersebut merupakan bagian dari layanan pendidikan bagi warga Samarinda yang tinggal di kawasan yang relatif terpencil.

“Kita mau mengakomodir warga kita, warga Kota Samarinda itu Kelurahan Loa Buah. Tapi wilayahnya agak terpencil di Loa Kumbar,” jelasnya.

Novan mengatakan, persoalan tenaga pendidik di SDN 005 Loa Buah maupun sekolah di Loa Kumbar akan dibahas bersama Disdikbud dan OPD terkait. DPRD terlebih dahulu akan memetakan kebutuhan dan kendala yang dihadapi agar penanganannya dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing sekolah.

“Nanti kita semua akomodir dulu permasalahannya apa, nanti kita akan rapatkan kembali dengan Dinas Pendidikan dan OPD terkait,” ujarnya.

Selain persoalan guru, SDN 005 Loa Buah juga masih menghadapi keterbatasan ruang belajar. Sekolah saat ini memiliki enam ruang kelas untuk menampung sekitar 370 siswa sehingga kegiatan belajar mengajar masih berlangsung dalam dua shift.

Pihak sekolah mengusulkan penambahan enam ruang kelas agar seluruh siswa dapat mengikuti pembelajaran dalam satu shift. Namun, bagi sekolah, pemenuhan sarana tersebut perlu berjalan beriringan dengan penataan tenaga pendidik.

Novan memastikan seluruh persoalan yang ditemukan dalam kunjungan lapangan akan menjadi bahan pembahasan bersama pemerintah daerah, termasuk persoalan formasi guru Bahasa Inggris dan kondisi tenaga pendidik di Loa Kumbar.

“Makanya kita semua akomodir dulu permasalahannya apa, nanti kita rapatkan kembali dengan Dinas Pendidikan dan OPD terkait,” pungkas Novan. (mell)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *