desain sukseskan kukar idaman terbaik

244 Tahun Tenggarong, Ziarah Makam Raja Jadi Refleksi Aulia Bangun Kukar

whatsapp image 2026 09 28 at 19.37.00
(Foto : Ln/kaltimvoice)

KALTIMVOICE.ID, TENGGARONG – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-244 Kota Raja, julukan Tenggarong, menjadi momen bagi Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Pemkab Kukar) untuk kembali melihat perjalanan panjang berdirinya kota tersebut melalui ziarah ke makam para raja dan sultan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Senin (28/9/2026).

Ziarah dilakukan ke sejumlah makam para raja dan sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, termasuk makam Sultan Aji Muhammad Muslihuddin atau Aji Imbut yang dikenal sebagai pendiri Kota Tenggarong.

Bupati Kukar Aulia Rahman Basri mengatakan bahwa ziarah tersebut tidak semata-mata untuk mengenang para pendahulu, tetapi juga menjadi refleksi bagi generasi saat ini dalam melihat proses panjang terbentuknya Tenggarong hingga berkembang menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Kukar.

Menurut Aulia, Tenggarong tidak hadir secara tiba-tiba seperti yang dikenal masyarakat saat ini. Ada perjalanan sejarah dan perjuangan panjang yang dilakukan oleh Aji Imbut dalam memindahkan pusat pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara dari Pemarangan ke Tepian Pandan.

“Kegiatan ziarah ini mengingatkan kita kepada beberapa hal. Yang pertama, Kota Tenggarong ini tidak serta-merta ada seperti yang kita lihat pada hari ini,” kata Aulia di Komplek Keraton Kutai Kartanegara Ing Martadipura (Museum Mulawarman).

Ia menjelaskan bahwa pusat pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara sebelumnya berada di Pemarangan. Namun, kondisi di kawasan tersebut saat itu dinilai sudah tidak kondusif, terutama karena adanya pemberontakan.

Dalam situasi itu, Aji Imbut yang sebelumnya dibesarkan oleh kakeknya, La Maddukelleng, di Wajo, kembali ke Kutai untuk mengambil kembali tahta yang telah diambil alih pihak lain.

Setelah itu, pusat pemerintahan dipindahkan ke Tepian Pandan yang kemudian dikenal dengan nama Tangga Arung atau Rumah Raja. Kawasan tersebut selanjutnya berkembang menjadi Kota Tenggarong.

Bagi Aulia, keputusan Aji Imbut tersebut memberikan pelajaran penting mengenai perubahan dan keberanian untuk berpindah dari kondisi yang tidak lagi kondusif menuju keadaan yang lebih baik.

“Kedua, pelajaran yang bisa kita ambil adalah hijrah atau perpindahan itu menjadi suatu keniscayaan untuk sesuatu yang lebih baik,” tuturnya.

Nilai tersebut, lanjut Aulia, menjadi relevan bagi pemerintah dan masyarakat saat ini. Sejarah tidak hanya dipandang sebagai catatan masa lalu, tetapi dapat menjadi bekal untuk menentukan arah pembangunan Kukar ke depan.

“Kita sebagai generasi penerus memandang ziarah ini bukan hanya sebuah perjalanan sejarah, akan tetapi ini merupakan suatu refleksi, merupakan suatu bekal bagi kami dalam membangun Kabupaten Kutai Kartanegara,” paparnya.

Aulia berharap perjalanan sejarah ini tetap menjadi bagian dari identitas Tenggarong. Menurutnya, perkembangan kota harus berjalan tanpa menghilangkan jati diri Tenggarong sebagai kota yang memiliki sejarah panjang Kesultanan Kutai Kartanegara.

“Kita berharap Tenggarong ini tetap menjadi kotanya para raja-raja, kita memperlakukan seluruh warga masyarakat yang ada di Kabupaten Kukar ini layaknya raja,” harapnya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar Heriansyah mengatakan, ziarah tersebut secara khusus diawali dengan mengunjungi makam Sultan Aji Muhammad Muslihuddin yang menjadi salah satu tokoh penting dalam sejarah berdirinya Kota Tenggarong.

Ia menyebut usia 244 tahun Tenggarong menjadi pengingat bahwa kota tersebut telah memiliki fondasi sejarah yang jauh lebih tua dibandingkan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Kita melakukan ziarah makam pendiri Kota Tenggarong, yaitu Sultan Aji Muhammad Muslihuddin, di mana Kota Tenggarong ini sudah berusia 244 tahun,” ujarnya.

Menurut Heriansyah, perjalanan panjang tersebut tidak terlepas dari peran para datuk dan keturunan Kesultanan Kutai Kartanegara yang telah meletakkan fondasi bagi terbentuk dan berkembangnya Kota Tenggarong.

“Yang mesti harus kita syukuri, di mana para datuk dan keturunan kami telah meletakkan fondasi mendirikan Kota Tenggarong ini yang usianya sudah 244 tahun. Jauh dari sebelum NKRI ini berdiri,” terangnya.

Karena itu, Heriansyah menilai generasi muda memiliki tanggung jawab untuk menjaga warisan tersebut sekaligus melanjutkan pembangunan Kota Tenggarong.

Pembangunan, kata dia, tidak hanya menyangkut perkembangan fisik dan tata kota, tetapi juga harus tetap mempertahankan adat serta budaya yang menjadi identitas daerah.

“Jadi sudah selayak dan sepantasnyalah kita sebagai generasi muda untuk menjaga dan membangun kota ini agar lebih baik lagi dari sisi tata kotanya, tanpa harus menghilangkan adat dan budayanya,” tutupnya.

(Ln/Adv34/Kukar)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *