KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Terminal Sungai Kunjang di Samarinda yang dibangun untuk melayani perjalanan antarkota antarprovinsi (AKAP) kini semakin kehilangan perannya. Bukannya menunggu di terminal resmi, penumpang lebih banyak memilih naik bus dari titik lain di sepanjang Jalan APT Pranoto, Kecamatan Samarinda Seberang.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana masyarakat menyesuaikan diri dengan ketersediaan fasilitas. Ketika terminal resmi tidak mampu memberikan kenyamanan, lokasi alternatif yang dianggap lebih praktis justru menjadi pilihan utama.
Mistoadi, seorang sopir bus yang juga Ketua RT di Kelurahan Sungai Kledang, menyebut kondisi Terminal Sungai Kunjang memang jauh dari harapan. Menurutnya, fasilitas minim membuat penumpang enggan menunggu lama di sana.
“Kalau di Terminal Sungai Kunjang minim fasilitas, penumpang jadi malas menunggu di sana. Sementara di APT Pranoto lengkap, ada penitipan kendaraan, warung makan, toko kelontong, sampai toilet,” ujarnya, Kamis kemarin (2/10/2025).
Ia menekankan, kenyamanan adalah faktor paling menentukan bagi penumpang. Di kawasan APT Pranoto, keberadaan warung, toko, hingga dukungan warga sekitar membuat suasana lebih aman, baik bagi penumpang maupun sopir bus.Situasi ini berdampak langsung pada operasional armada.
Mistoadi menjelaskan, bus baru bisa diberangkatkan jika minimal ada 15 penumpang. Jika jumlah itu tidak terpenuhi di terminal resmi, penumpang terpaksa dipindahkan ke bus lain, sementara armada kosong harus kembali menunggu giliran.
“Makanya banyak penumpang lebih memilih langsung naik di Jalan APT Pranoto. Tidak perlu menunggu lama, dan bus pun bisa segera jalan,” jelasnya.
Kini, jalur bus pun cenderung mengikuti pola yang sama. Setelah keluar dari Terminal Sungai Kunjang, armada biasanya singgah di simpang tiga Jalan Untung Suropati–Jalan Ir Sutami sebelum akhirnya berhenti di APT Pranoto, yang kemudian menjadi titik paling ramai.
“Kalau di APT Pranoto, penumpang dari pusat kota langsung naik di sini. Pola semacam ini terjadi juga di banyak kota lain di Indonesia,” tambah Mistoadi.
Namun, keberadaan terminal bayangan itu tidak sesuai dengan regulasi. Pemerintah daerah melalui tim gabungan Satpol PP Kaltim, Dishub Kaltim, dan Dishub Samarinda telah melakukan pemantauan di lapangan.
Upaya ini menindaklanjuti laporan masyarakat lewat aplikasi Si Pintar yang menilai aktivitas di kawasan APT Pranoto menimbulkan kemacetan dan mengganggu ketertiban lalu lintas. Di sisi lain, realitas menunjukkan terminal bayangan justru memenuhi kebutuhan masyarakat yang belum terakomodasi di terminal resmi.
Mistoadi pun berharap pemerintah tidak hanya sekadar melakukan penertiban, tetapi juga menghadirkan perbaikan nyata.“Kalau memang tidak boleh lagi di jalan, tolong fasilitas terminal resmi diperbaiki dulu. Penumpang pasti mau ke sana kalau merasa nyaman,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan soal keamanan. Menurutnya, penitipan kendaraan di terminal bayangan memang berbayar, tetapi lebih terjamin. “Di sini (terminal bayangan), penitipan kendaraan memang berbayar tapi aman. Di terminal resmi, bahkan motor kru bus pernah hilang,” pungkasnya. (ns)