KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Atmosfer Natal mulai terasa di sudut-sudut Kota Samarinda. Di balik persaingan ketat antartoko dan maraknya belanja daring, sejumlah toko lama justru kembali hidup. Salah satunya Toko Simpang Damai Baru yang setiap akhir tahun menjadi tujuan warga berburu hiasan Natal.
Toko yang dikelola Lili (54) itu bukan pemain baru. Berdiri sejak akhir 1960-an, usaha keluarga tersebut kini telah memasuki generasi kedua. Sejak puluhan tahun lalu, toko ini konsisten menyediakan pernak-pernik Natal dan perlengkapan dekorasi hari besar lainnya.
Menjelang Natal 2025, denyut transaksi mulai meningkat. Meski tidak lagi sepadat masa-masa awal ketika pilihan toko masih terbatas, Lili mengakui geliat pembelian tetap terasa dibanding hari-hari biasa. “Kalau dibandingkan hari biasa, ya tetap ada kenaikan. Kira-kira sekitar 50 persen,” ujarnya, Kamis (18/12/2025).
Menurut Lili, perubahan lanskap usaha menjadi tantangan tersendiri. Kini, hampir setiap sudut kota memiliki toko dengan produk serupa, belum lagi persaingan dari platform belanja online. Namun, ia memilih bertahan dengan menjaga identitas toko yang fokus pada dekorasi, bukan barang kebutuhan umum. “Kami lebih ke hiasan, aksesori, dan bahan-bahan dekorasi. Itu yang jadi ciri toko kami,” katanya.
Dari sisi harga, Lili memastikan tidak ada lonjakan signifikan tahun ini. Baik harga kulakan maupun harga jual relatif stabil. Kondisi tersebut dinilainya membantu menjaga minat beli masyarakat di tengah situasi ekonomi yang masih fluktuatif.
Soal selera pasar, tren memang terus berubah. Namun beberapa item tetap menjadi langganan pembeli setiap Natal, mulai dari slanger, bola Natal, gantungan pohon, lampu hias, topi, hingga pita dekorasi. Tahun ini, pita berukuran besar dengan kombinasi warna emas dan merah mencuri perhatian konsumen. “Trennya beda-beda tiap tahun, tapi nuansa gold dan merah itu selalu dicari,” jelasnya.
Rentang harga yang ditawarkan pun cukup beragam. Produk sederhana dibanderol mulai Rp8.000, sementara hiasan yang lebih eksklusif bisa mencapai Rp20.000 hingga Rp25.000 ke atas.
Menariknya, Lili melihat pergeseran pola belanja. Jika sebelumnya pembeli cenderung memilih hiasan murah, kini dekorasi pohon Natal dengan tampilan lebih elegan justru diminati.
Tak hanya melayani pelanggan dari Samarinda, toko ini juga kerap didatangi pembeli dari luar daerah, termasuk wilayah pelosok dan daerah hulu. Keterbatasan akses serta waktu pengiriman menjadi alasan mereka memilih datang langsung ke toko. “Ada yang beli untuk hias dermaga di kampungnya. Jadi mereka datang langsung ke Samarinda supaya bisa lihat barangnya,” imbuh Lili.
Untuk pohon Natal, Toko Simpang Damai Baru menyediakan berbagai pilihan ukuran, mulai dari 2–3 feet untuk meja hingga ukuran besar 7 dan 9 feet yang biasa digunakan di gereja. Harga pohon Natal berkisar antara Rp300.000 untuk ukuran kecil, hingga Rp1,5 juta untuk tipe premium berwarna emas.
Meski demikian, Lili mengakui penjualan pohon Natal tidak setinggi pernak-pernik lainnya. Kebanyakan pelanggan hanya memperbarui hiasan karena sudah memiliki pohon dari tahun sebelumnya.
Ia juga mencermati pola belanja yang terbagi dalam beberapa tahap. Sebagian konsumen sudah berbelanja sejak akhir November, terutama untuk keperluan usaha. Sementara gereja-gereja biasanya mulai melengkapi dekorasi pada awal Desember. Mendekati Hari Natal, aktivitas belanja justru cenderung melandai karena kebutuhan utama telah terpenuhi.
Di luar musim Natal, toko kembali menjual kebutuhan umum seperti alat tulis dan perlengkapan jahit. Sementara pernak-pernik hari besar lain seperti Imlek, Lebaran, hingga perayaan 17 Agustus, dipajang mengikuti kalender tahunan. Namun, Natal tetap menjadi momen paling penting bagi kelangsungan usaha tersebut.“Kalau Natal memang paling ramai, makanya kami selalu siapkan stok dari jauh-jauh hari,” pungkasnya.
Dengan menjaga kekhasan produk dan mengikuti perkembangan tren, Lili berharap Toko Simpang Damai Baru tetap bertahan dan dikenal lintas generasi sebagai salah satu toko pernak-pernik Natal legendaris di Samarinda. (ns)