merah hitam putih modern berita terkini banner youtube

Jembatan Mahulu Gelap dan Minim CCTV, Warga Sebut Jadi “Anak Tiri”, Desak Pemprov Lakukan Perbaikan Menyeluruh

whatsapp image 2026 07 20 at 12.59.33
Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu) di Samarinda. (Foto: mell/Kaltimvoice.id)

KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Minimnya penerangan dan belum tersedianya kamera pengawas (CCTV) di Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu) dinilai tak lagi sekadar mengurangi kenyamanan pengguna jalan.

Warga menyebut kondisi tersebut kini menjadi persoalan keselamatan yang berpotensi memicu kecelakaan hingga percobaan bunuh diri.

Kekhawatiran itu disampaikan Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM) Kelurahan Loa Buah yang sebelumnya mengirimkan surat terbuka kepada Gubernur Kalimantan Timur.

Melalui surat tersebut, warga meminta Pemerintah Provinsi Kaltim melakukan pembenahan menyeluruh terhadap kondisi Jembatan Mahulu.

Ketua FKPM Kelurahan Loa Buah, Sabil Husain, mengatakan persoalan di Jembatan Mahulu jauh lebih kompleks daripada sekadar kerusakan jalan. Menurutnya, minimnya lampu penerangan, tidak adanya CCTV, rambu keselamatan yang terbatas hingga kerusakan sambungan jembatan menjadi persoalan yang harus segera ditangani.

whatsapp image 2026 07 20 at 12.59.32
Ketua FKPM Kelurahan Loa Buah, Sabil Husain. (Foto: mell/Kaltimvoice.id)

“Tidak adanya rambu, tidak adanya CCTV dan juga minimnya penerangan. Itu yang kami soroti,” ujarnya, Senin (20/7/2026).

Sabil mengungkapkan, sepanjang tahun 2026 pihaknya telah menangani sedikitnya lima kasus percobaan bunuh diri di kawasan Jembatan Mahulu. Sebagai relawan yang bertugas di sekitar lokasi, FKPM beberapa kali turun langsung melakukan evakuasi.

Menurutnya, kondisi jembatan yang gelap menjadi salah satu faktor yang membuat kawasan tersebut rawan dimanfaatkan untuk tindakan tersebut.

“Dari awal tahun sampai sekarang sudah sekitar lima kali percobaan bunuh diri yang kami tangani. Kami berharap penerangan di jembatan ini menjadi perhatian pemerintah,” katanya.

Selain itu, kerusakan pada sambungan jembatan (expansion joint) juga disebut terus berulang. Sabil menilai perbaikan yang dilakukan selama ini hanya bersifat sementara karena kembali rusak dalam waktu singkat.

“Kami perhatikan perbaikannya hanya bertahan sekitar 15 hari, bahkan kurang. Setelah itu rusak lagi, ditambal lagi, begitu terus selama beberapa bulan terakhir,” ujarnya.

Ia menilai metode tambal sulam justru membentuk gundukan di sambungan jembatan. Kondisi itu membahayakan pengendara, terutama pengguna sepeda motor maupun masyarakat dari luar daerah yang belum mengetahui karakter jalan di Jembatan Mahulu.

“Orang yang baru pertama lewat pasti kaget. Kendaraan bisa loncat karena gundukannya tinggi. Sudah banyak pengendara yang jatuh sampai tabrakan beruntun,” tuturnya.

Tak hanya soal keselamatan, FKPM juga menyoroti kebersihan Jembatan Mahulu yang dinilai semakin memprihatinkan. Sampah yang menumpuk dan rumput liar di sejumlah titik membuat salah satu jembatan utama di Samarinda itu terlihat kurang terawat.

Sabil bahkan menyebut Mahulu seolah menjadi “anak tiri” dibanding Jembatan Mahakam maupun Jembatan Mahkota 2 (Jembatan Achmad Amins) terletak yang dinilai lebih mendapat perhatikan dari pemerintah.

“Padahal fungsi Mahulu sangat vital. Aktivitas masyarakat, distribusi barang, orang berangkat kerja, sekolah, sampai kegiatan ekonomi banyak bergantung pada jembatan ini,” katanya.

Hingga kini, FKPM masih menunggu respons Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur atas surat terbuka yang telah disampaikan. Namun apabila belum ada tindak lanjut, warga membuka kemungkinan menggelar aksi sebagai bentuk desakan kepada pemerintah.

“Kalau memang masih slow response, terpaksa masyarakat mungkin akan melakukan aksi. Yang kami minta sederhana, Jembatan Mahulu diperbaiki secara menyeluruh agar aman, nyaman, dan layak digunakan masyarakat,” pungkasnya. (mell)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *