KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Intrusi air laut yang masuk ke Sungai Mahakam akibat kemarau El Nino mulai memengaruhi operasional sejumlah Instalasi Pengolahan Air (IPA) milik Perumda Tirta Kencana Samarinda.
Sejumlah IPA kini harus mengatur jam produksinya secara berkala, terutama ketika kadar klorida pada air baku melewati ambang batas yang masih dapat diolah.
Asisten Manager Humas Perumda Tirta Kencana Samarinda, Cevi Wahyudi, mengatakan kondisi tersebut sebelumnya terjadi di IPA Pulau Atas, Palaran, dan Kalhol. Namun, intrusi air laut kini juga mulai terpantau di IPA Selili dan Sungai Kapih.
“Kalau kita misalnya (kadar klorida) 250 ppm, kita bisa produksi. Tapi kalau di atas itu kita stop produksi. Tapi secara berkala kita pengecekan rutin,” ujar Cevi kepada Kaltimvoice.id saat ditemui di Kantor Perumda Tirta Kencana Samarinda.
Pengecekan dilakukan setiap satu jam untuk memastikan kadar klorida kembali berada di bawah ambang batas. Jika kondisi air sudah kembali normal, produksi langsung dijalankan kembali.
Cevi mengatakan pengurangan yang dilakukan bukan pada kapasitas debit produksi, melainkan waktu operasional IPA. Dalam kondisi tertentu, penghentian produksi dapat berlangsung sekitar beberapa jam, tergantung pergerakan kadar salinitas.
Sementara itu, Humas Perumda Tirta Kencana Samarinda, Taufik, meminta masyarakat tidak panik dengan kondisi tersebut. Ia menjelaskan, produksi air tidak serta-merta dihentikan sepanjang hari hanya karena air laut masuk ke sumber air baku.
Ia mencontohkan kondisi di IPA Kalhol baru-baru ini. Saat kadar klorida sempat mencapai sekitar 400 ppm, produksi dihentikan sementara. Namun, sekitar 30 menit kemudian kadar kembali berada di bawah ambang batas sehingga produksi dapat dilanjutkan.
“Apabila intrusi air laut itu masuknya mungkin, andai kata nantinya seperti tadi ada 30 menit stop produksi. Tapi apabila sudah dari ambang 250 ppm turun, kita akan produksi kembali seperti semula,” jelasnya.
Untuk mengantisipasi kebutuhan warga di wilayah terdampak, Perumda Tirta Kencana juga berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota (BPBD) Samarinda. Distribusi air nantinya dilakukan melalui terminal IPA terdekat, terminal umum yang disiapkan kelurahan, serta sumber air mandiri seperti sumur bor masyarakat.
Perumda Tirta Kencana mengimbau warga di wilayah terdampak untuk menampung air terlebih dahulu selama pasokan masih mengalir. Masyarakat juga diminta menghemat penggunaan air selama kondisi intrusi air laut masih berlangsung.
Taufik menegaskan, kondisi tersebut tidak berarti pelayanan air bersih Perumda Tirta Kencana berhenti selama 24 jam. Produksi akan kembali dilakukan setiap kali kadar klorida turun dan berada pada batas yang memungkinkan untuk diolah.
“Bukan 24 jam Perumda Tirta Kencana stop produksi. Jadi masyarakat jangan panik untuk bisa segera tampung air terlebih dahulu dan jangan lupa menghemat air dalam kondisi saat ini,” pungkasnya. (mell)