merah hitam putih modern berita terkini banner youtube

Cuaca Panas Berkepanjangan, Dinkes Samarinda Wanti-wanti Heatstroke Bisa Picu Pingsan

whatsapp image 2026 08 20 at 14.57.19
Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, dr Ismed Kusasih. (Foto: mell/Kaltimvoice.id

KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Cuaca panas yang berlangsung cukup panjang di Samarinda membuat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai sengatan panas atau heatstroke. Kondisi tersebut dapat berkembang serius hingga menyebabkan pingsan, gangguan sirkulasi darah, bahkan gangguan kesadaran.

Kepala Dinkes Samarinda, dr Ismed Kusasih, mengatakan hal utama yang perlu diperhatikan masyarakat saat menghadapi cuaca panas adalah mencegah tubuh mengalami kekurangan cairan. Masyarakat juga dianjurkan mengurangi paparan langsung terhadap panas dan menggunakan alat pelindung diri (APD) ketika beraktivitas di luar ruangan.

“Yang paling penting sebenarnya adalah jangan sampai terjadi dehidrasi. Kalau terjadi dehidrasi, menghindarinya pasti rehidrasi, jadi harus cukup minum,” ujar Ismed, Kamis (20/8/2026).

Ismed menjelaskan Heatstroke atau sengatan panas terjadi ketika tubuh mengalami paparan panas berlebihan dan mulai kesulitan mengatur suhu tubuh.

Sengatan panas, kata dia, yang sudah berat dapat membuat seseorang tiba-tiba kehilangan kesadaran. Kondisi itu juga dapat disertai kekurangan cairan dan gangguan pada sirkulasi darah sehingga berpotensi membahayakan.

“Yang mulai terjadi hal serius, tiba-tiba kan orang bisa pingsan. Nah ini yang rawan,” katanya.

Karena itu, masyarakat diminta menyesuaikan aktivitas dengan kondisi cuaca. Selain memperbanyak konsumsi cairan, perlindungan seperti pakaian atau perlengkapan yang sesuai juga diperlukan untuk mengurangi paparan panas secara langsung.

Peringatan tersebut menjadi relevan seiring periode panas dan kemarau yang masih berlangsung. Berdasarkan informasi BMKG, Agustus menjadi periode dengan suhu paling panas, sementara kondisi kemarau masih berlanjut hingga September.

Memasuki Oktober, tingkat kekeringan diperkirakan mulai menurun. Kendati demikian, kondisi cuaca tetap perlu diantisipasi hingga akhir tahun, terutama bagi masyarakat yang memiliki aktivitas di luar ruangan.

Ismed menyebut suhu udara di Samarinda dalam beberapa hari terakhir masih berada di kisaran 35–36 derajat Celsius. Kondisi tersebut dinilai belum masuk pada suhu ekstrem yang biasanya lebih berisiko memicu heatstroke berat.

Meski demikian, kewaspadaan tetap diperlukan, terutama bagi masyarakat yang beraktivitas cukup lama di bawah terik matahari. Ia menyarankan warga sedapat mungkin menghindari waktu dengan paparan panas paling tinggi.

Di sisi lain, Dinkes Samarinda belum melihat peningkatan signifikan pada angka kesakitan akibat cuaca panas. Termasuk kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang disebut masih berada dalam pola kejadian seperti biasanya.

“Kalau ISPA mau cuaca panas atau tidak memang terjadi sebagai penyakit yang dominan. Angka kesakitan di musim panas ini seperti biasa, tidak ada peningkatan yang luar biasa,” tuturnya.

Dengan kondisi panas dan kemarau yang masih perlu diantisipasi, Ismed kembali mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan kebutuhan cairan tubuh dan membatasi paparan panas secara langsung. Langkah sederhana tersebut dinilai penting untuk mencegah dehidrasi berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.

“Yang paling dikhawatirkan itu sebenarnya satu, sengatan panas atau heatstroke,” tandas Ismed. (mell)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *