merah hitam putih modern berita terkini banner youtube

DPTPH Kaltim Dorong Optimalisasi Produk Pangan Lokal untuk Program MBG

whatsapp image 2025 10 07 at 14.31.46 ec327c7d
Kepala DPTPH Kaltim, Siti Farisyah Yana.(ns/kaltimvoice)

KALTIMVOICE,ID, SAMARINDA – Dinas Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (DPTPH) Kalimantan Timur terus berupaya memperkuat penggunaan produk lokal sebagai bahan baku utama dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah ini diambil untuk memastikan suplai pangan program tersebut berasal dari hasil pertanian daerah, sekaligus menjaga mutu dan keamanan pangan.

Kepala DPTPH Kaltim, Siti Farisyah Yana, menyampaikan bahwa produk-produk lokal yang akan disalurkan ke dapur MBG harus melalui serangkaian pengujian terlebih dahulu. Hal ini bertujuan memastikan bahan makanan yang digunakan aman dan bebas dari kandungan berbahaya.

Ia menuturkan, saat ini pihaknya sedang melakukan pemetaan terhadap seluruh dapur MBG di Kalimantan Timur untuk menghubungkan daerah penghasil produk pertanian dengan lokasi dapur yang berdekatan. “Produk hasil pertanian harus kami uji terlebih dahulu, terutama untuk memastikan tidak mengandung pestisida berlebih atau logam berat. Setelah hasilnya aman, barulah dapat direkomendasikan untuk digunakan di dapur MBG,” ujar Yana, Selasa (7/10/2025).

Ia juga menjelaskan bahwa dalam rapat koordinasi terakhir, DPTPH diminta mempercepat pembentukan dapur MBG khusus bagi wilayah terpencil. Berbeda dengan dapur reguler yang melayani hingga 3.000 porsi, dapur di daerah terpencil akan menyesuaikan dengan kondisi geografis dan jumlah penerima manfaat.

“Untuk wilayah yang letaknya berjauhan dan memiliki keterbatasan distribusi pangan, jarak pengiriman tidak boleh lebih dari 30 menit dengan radius maksimal enam kilometer. Jadi, jika ada beberapa sekolah dengan total 200 hingga 300 siswa, cukup disiapkan satu dapur khusus. Tujuannya agar proses distribusi lebih efisien dan bahan pangan lokal dapat terserap lebih cepat,” jelasnya.

Lebih lanjut, Yana mengungkapkan bahwa DPTPH akan melakukan proses pencocokan (matching) antara dapur MBG dengan potensi produk pertanian di wilayah sekitar. Langkah ini tidak hanya untuk mendukung penggunaan produk lokal, tetapi juga memperkenalkan ragam pangan daerah kepada anak-anak penerima manfaat.

“Data hasil pemetaan kami nantinya akan disesuaikan dengan peta dapur MBG. Sebelum produk lokal digunakan sebagai bahan baku, kami pastikan terlebih dahulu melalui uji kandungan logam berat,” paparnya.

Terkait pola kerja sama dengan petani lokal, Yana menambahkan bahwa mekanisme saat ini masih bersifat business to business (B2B), di mana setiap dapur MBG menjalin kemitraan langsung dengan petani setempat. “Selama ini sistem kerja samanya masih B2B antara pihak dapur MBG dan petani. Namun, kami terus berupaya agar sinergi ini semakin kuat dan lebih terkoordinasi,” pungkasnya. (ns)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *