KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Musim kemarau di Kalimantan Timur dipastikan belum mencapai puncaknya. Pergeseran musim kering yang diperkirakan baru berlangsung mulai akhir Juli membuat ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terus membayangi sejumlah daerah, terutama Kutai Timur (Kutim), Kutai Barat (Kubar), dan Berau.
Meski hujan masih sesekali turun, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Timur mencatat laporan karhutla hampir setiap hari terus berdatangan dari kabupaten dan kota di Kaltim. Kondisi tersebut menunjukkan potensi kebakaran mulai meningkat, meski luasan titik api sejauh ini masih relatif kecil.
Kepala BPBD Kaltim, Buyung Dodi, menjelaskan musim kemarau tahun ini mengalami pergeseran dibanding perkiraan awal. Jika sebelumnya diprediksi dimulai pada akhir Juni hingga awal Juli, kini musim kering diperkirakan baru benar-benar berlangsung pada akhir Juli dan dapat bertahan hingga September bahkan November.
“Jadi agak bergeser musim kering di Kaltim. Yang awalnya diperkirakan mulai akhir Juni, awal Juli, sekarang mungkin baru akhir Juli sampai September, Oktober, bahkan November,” ujarnya, Jum’at (25/7/2026).
Menurut Buyung, kondisi tersebut membuat cuaca di Kaltim saat ini masih ditandai kombinasi panas dan hujan. Situasi itu dinilai masih membantu menekan meluasnya kebakaran, meski titik-titik api tetap mulai bermunculan di sejumlah daerah.
“Kalau masih ada hujan, dampak kebakarannya relatif lebih sedikit. Tapi dalam laporan kami memang hampir setiap hari ada salah satu kabupaten atau kota yang terjadi karhutla,” katanya.
Ia menyebut, sebagian besar kebakaran yang terjadi diduga dipicu kelalaian manusia. Sementara berdasarkan data yang masuk ke BPBD, luasan kebakaran terbesar sejauh ini terjadi di Kubar dengan luasan masih di bawah lima hektare dan tersebar di beberapa lokasi.
Meski demikian, BPBD terus melakukan pemantauan bersama pemerintah kabupaten dan kota agar setiap kejadian dapat segera ditangani sebelum meluas.
“Kami koordinasi terus dengan teman-teman kabupaten dan kota untuk memastikan kebakaran itu tertangani dengan tuntas,” ucapnya.
Buyung menambahkan, seluruh wilayah di Kalimantan Timur pada dasarnya memiliki potensi karhutla. Namun berdasarkan pemantauan BPBD, daerah yang saat ini perlu mendapat perhatian lebih ialah Kutim, Kubar, dan Berau karena memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi dibanding wilayah lainnya.
“Hampir semua daerah punya potensi (karhutla), tapi yang paling banyak yaitu Kutim, Kubar, dan Berau. Jadi memang kita terus memantau perkembangan titik panasnya,” jelasnya.
Ia menerangkan, titik panas atau hotspot yang terdeteksi melalui pemantauan satelit belum tentu merupakan titik api. Beberapa hotspot dapat muncul akibat panas dari aktivitas pertambangan, atap seng, maupun sumber panas lainnya sehingga tetap memerlukan verifikasi lapangan.
Karena itu, BPBD terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memastikan setiap hotspot yang terdeteksi benar-benar merupakan kebakaran hutan dan lahan sebelum dilakukan penanganan lebih lanjut.
“Hotspot itu belum tentu titik api. Bisa karena panas mineral, tambang batu bara, atau atap seng. Makanya tetap kita validasi bersama kabupaten dan kota apakah benar menjadi titik api atau bukan,” tukasnya. (mell)