merah hitam putih modern berita terkini banner youtube

Bukan Malas Berdagang, Pedagang Pasar Pagi Sebut Penataan Kios Jadi Biang Pasar Sepi

54648a87 18f7 4640 b9b9 b87d467953a6
Ketua Komisi II DPRD Samarinda, Iswandi (kiri), berdialog dengan pedagang saat sidak di Pasar Pagi, Kamis (30/7/2026). (Foto: mell/Kaltimvoice.id)

KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Penataan kios hasil revitalisasi dinilai menjadi penyebab utama masih banyaknya lapak yang tutup dan lesunya aktivitas perdagangan di Pasar Pagi Samarinda.

Pedagang menegaskan kondisi itu bukan karena mereka enggan berjualan, melainkan biaya operasional yang membengkak akibat lokasi kios tersebar di berbagai titik.

Penilaian itu disampaikan Ketua Forum Pedagang Pasar Pagi, Thoriq Hakim. Menurutnya, banyak pedagang memperoleh lebih dari satu kios, namun lokasinya tidak berdekatan, bahkan terpencar di beberapa titik.

Akibatnya, mereka harus menambah jumlah karyawan hanya untuk menjaga kios yang berbeda lokasi. Sementara jumlah pembeli belum mampu menutup biaya operasional.

“Kalau tempatnya berpencar seperti itu, yang tadinya kami cukup dua karyawan, sekarang masing-masing toko nambah karyawan,” ujar Thoriq kepada Kaltimvoice.id saat ditemui di lapaknya, Kamis (30/7/2026).

Thoriq mengaku memiliki lima kios yang seluruhnya berada di lantai tiga sesuai klaster jenis dagangan. Namun, kelima kios tersebut tidak berada dalam satu deretan sehingga biaya operasional ikut membengkak.

Ia menilai kondisi serupa dialami banyak pedagang lain. Bahkan ada pemilik belasan kios yang mendapatkan lokasi di beberapa lantai berbeda sehingga memilih hanya membuka sebagian kiosnya.

“Misalnya ada yang punya 13 kios, dapatnya di lantai tiga, empat, lima, enam, sampai tujuh. Akhirnya yang dibuka cuma dua kios karena kalau semuanya buka harus tambah banyak karyawan,” ujarnya.

Menurut Thoriq, persoalan tersebut sebenarnya sudah diingatkan sejak sebelum pembagian kios dilakukan. Forum pedagang sempat mengusulkan agar proses undian dilakukan berdasarkan jumlah kios yang dimiliki pedagang sehingga lokasi yang diperoleh tetap berdekatan.

Dengan pola itu, ia meyakini tingkat keterisian kios di lantai atas tidak akan serendah kondisi saat ini.

“Kalau dulu usulan kami didengar, saya yakin kios di lantai enam dan tujuh tidak akan banyak yang kosong,” katanya.

Selain penataan kios, Forum Pasar Pagi juga telah menyampaikan sedikitnya 10 usulan kepada Wali Kota Samarinda. Beberapa di antaranya pemasangan eskalator pada tangga utama agar akses pengunjung lebih mudah, penurunan tarif parkir, hingga penataan ulang area kuliner.

Khusus untuk food court, pedagang mengusulkan seluruh pusat kuliner ditempatkan di lantai tujuh agar menjadi daya tarik pengunjung naik ke lantai atas sekaligus menghidupkan aktivitas perdagangan di seluruh gedung.

“Kalau food court dijadikan satu di atas, orang pasti naik. Setelah makan mereka turun lagi sambil lihat-lihat dagangan. Itu bisa menghidupkan semua lantai,” jelasnya.

Di sisi lain, ia mengaku kecewa karena berbagai masukan tersebut belum pernah dibahas bersama pemerintah. Menurutnya, Forum Pasar Pagi telah empat kali mengirim surat permohonan audiensi kepada Dinas Perdagangan, namun hingga kini belum mendapat tanggapan.

“Padahal kami bukan menentang. Kami justru memberi solusi karena kami yang setiap hari berdagang di sini,” ucapnya.

Thoriq pun menilai revitalisasi Pasar Pagi hanya berhasil dari sisi tampilan bangunan, tetapi belum mampu menghidupkan fungsi utamanya sebagai pusat perdagangan.

“Kalau dari segi estetik, sukses. Tapi kalau dari segi fungsi pasar, menurut saya gagal. Penataan ruangnya yang membuat pasar ini sepi,” tandasnya. (mell)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *