desain sukseskan kukar idaman terbaik

Aksi 214 Jilid II Berlanjut hingga Malam, Desak Hak Angket Bergulir di Karang Paci

img 20260504 wa0032
Suasana malam di halaman Kantor DPRD Kalimantan Timur, Senin (4/5/2026), saat massa Aksi 214 Jilid II masih bertahan mengawal tuntutan hak angket. (Foto: mell/Kaltimvoice.id)

KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Seruan Aksi 214 Jilid II yang digelar Aliansi Rakyat Kalimantan Timur di depan Gedung DPRD Kaltim, Senin (4/5/2026), terus berlanjut hingga melewati batas waktu aksi. Massa tetap bertahan hingga pukul 18.00 Wita untuk mengawal tuntutan hak angket yang tengah dibahas di dalam Rapat Konsultasi Pimpinan DPRD Kalimantan Timur.

Aksi ini merupakan kelanjutan dari gerakan sebelumnya pada 21 April lalu. Kali ini, massa tidak hanya menyampaikan aspirasi melalui orasi, tetapi juga menuntut agar dilibatkan atau setidaknya mendapatkan kepastian hasil rapat konsultasi DPRD terkait hak angket.

Di tengah situasi tersebut, rapat di dalam gedung DPRD berlangsung secara tertutup. Meski demikian, pihak DPRD menyiarkan jalannya rapat secara langsung, sementara akses media untuk masuk ke ruang rapat dibatasi.

Humas Aliansi Rakyat Kalimantan Timur, Bella Monica, menegaskan massa akan tetap bertahan hingga mendapatkan kejelasan hasil rapat. “Biarpun tidak disiarkan secara langsung kepada kami, kami tetap akan di sini sampai rapatnya selesai, sampai kami mendengar apa hasil dari rapat tersebut,” ujarnya.

Ia menyebut, tuntutan utama yang dibawa dalam aksi ini adalah mendorong DPRD menggunakan hak angket sebagai bentuk pengawasan terhadap kebijakan pemerintah daerah. “Teman-teman di sini tuntutannya jelas, kami hanya ingin mendengar dan memastikan hak angket itu dijalankan,” tegasnya.

Bella juga mengingatkan, apabila tuntutan tersebut tidak diakomodasi, aliansi siap kembali menggelar aksi lanjutan dengan jumlah massa yang lebih besar. “Kalau tidak diputuskan, kami akan kembali lagi ke sini dengan massa yang lebih banyak. Ini suara rakyat, dan kami berhak menyuarakannya,” katanya.

Menurutnya, dinamika yang terjadi selama aksi berlangsung justru menunjukkan adanya hambatan dalam penyampaian aspirasi masyarakat. “Dari tadi kami diperlambat, dilempar-lempar. Padahal ini suara rakyat yang ingin didengar,” pungkasnya. (mell)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *