KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda terus mendorong percepatan pemenuhan Sertifikat Laik Sehat Higiene Sanitasi (SLSH) bagi seluruh Sentra Penyediaan Pangan Gizi (SPPG) yang beroperasi di kota Samarinda.
Upaya tersebut dilakukan untuk menindaklanjuti harapan Kementerian Kesehatan agar seluruh SPPG di Indonesia dapat segera memperoleh sertifikat tersebut, idealnya sebelum Oktober mendatang.
Kepala Dinas Kesehatan Samarinda, dr. Ismed Kusasih, menjelaskan bahwa percepatan proses sertifikasi tidak semudah membubuhkan persetujuan.
Setiap SPPG wajib memenuhi tiga persyaratan dasar. Pertama, seluruh penjamah makanan harus mengikuti pelatihan resmi. Kedua, para pekerja wajib menjalani pemeriksaan kesehatan. Ketiga, lokasi SPPG harus melalui inspeksi lapangan dan dinyatakan memenuhi standar higiene dan sanitasi.
Ismed menyampaikan bahwa dari total sekitar 13–14 SPPG yang beroperasi di Samarinda, baru dua yang telah memenuhi seluruh persyaratan dan layak menerima SLSH. “Yang pertama di Samarinda Ulu yaitu SPPG Bugis, yang kedua itu yang punya kepolisian,” ujarnya, Sabtu (15/11/2025).
Ia menegaskan bahwa proses sertifikasi tidak bisa dilakukan secara asal-asalan. Semua SPPG wajib memenuhi seluruh standar tanpa pengecualian, termasuk pemeriksaan kesehatan pekerja yang jumlahnya bisa puluhan orang.
Pemeriksaan tersebut antara lain memastikan penjamah makanan bebas penyakit seperti TBC dan hepatitis, sesuai ketentuan yang berlaku. Ismed menambahkan bahwa pemerintah pusat sebenarnya telah memberikan kemudahan dalam proses perizinan. Sistem perizinan kini terintegrasi melalui OSS, dan khusus SPPG, rekomendasi dapat diproses secara kolektif. Meskipun demikian, pemilik SPPG tetap harus bersikap proaktif melengkapi syarat-syarat yang diwajibkan.
Saat menghadiri kegiatan pameran kesehatan sebelumnya, Ismed mencatat baru dua SPPG yang benar-benar lengkap persyaratannya. Sisanya masih dalam proses pembinaan dan diarahkan untuk segera memenuhi kriteria, terutama terkait pelatihan penjamah makanan.
Ia menekankan bahwa aspek tersebut menjadi prioritas karena berhubungan langsung dengan keamanan pangan yang didistribusikan ke masyarakat. “Sekarang ini kan kita berproses, kita arahkan mereka supaya cepat, terutama yang paling penting itu sebenarnya pelatihan penjamah makanan,” tutup Ismed. (ns)