KALTIMVOICE.ID, SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dinilai berhasil menjaga wilayahnya tetap bebas dari kasus rabies pada manusia dalam beberapa tahun terakhir. Kunci keberhasilan itu ada pada model penanganan cepat yang diterapkan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) bersama masyarakat, di mana setiap laporan gigitan hewan langsung ditindak lanjuti dokter hewan lapangan.
Kepala DTPHP Kutim, Dyah Ratnaningrum, menjelaskan, laporan masyarakat kini datang lebih cepat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Warga disebut sudah terbiasa menghubungi petugas karena mereka menyimpan kontak dokter hewan di masing-masing kecamatan. “Begitu ada hewan menggigit manusia, masyarakat langsung melapor. Itu memudahkan kami bergerak cepat,” ujarnya, Senin (10/11/2025)..
Penanganan dilakukan secara berlapis, dimulai dari observasi hewan selama 14 hari. Hewan yang menggigit tidak langsung dimatikan, melainkan dipantau agar melihat munculnya gejala khas rabies. Jika hewan mati selama masa observasi, sampel kepala dikirim ke Balai Veteriner Samarinda agar dilakukan pemeriksaan PCR, metode yang menjadi standar emas diagnosis rabies. “Kalau mati dalam masa observasi, kami kirim ke Samarinda. Hanya pemeriksaan PCR yang bisa memastikan positif atau tidak,” jelas Dyah.
Jika hasil PCR menunjukkan positif, DTPHP bergerak cepat berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan agar korban gigitan segera mendapat vaksin anti rabies (VAR) dan serum anti rabies (SAR). Dyah menegaskan pentingnya kecepatan penanganan karena rabies bersifat fatal ketika virus mencapai sistem saraf pusat. “Jika virus sudah masuk ke sistem saraf pusat, pasien hampir tidak bisa diselamatkan. Karena itu kecepatan penanganan sangat penting,” tegasnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, tidak ditemukan kasus rabies pada manusia di Kutim. Dyah mengapresiasi peran masyarakat yang semakin sadar untuk melapor lebih awal. “Kuncinya edukasi dan pelaporan cepat. Masyarakat sekarang sadar bahwa gigitan hewan tidak boleh diremehkan,” katanya.
Ia memastikan pemerintah tetap meningkatkan kewaspadaan dengan rutin melakukan vaksinasi hewan pembawa rabies di seluruh kecamatan. “Rabies bukan penyakit main-main. Tapi dengan sistem yang kuat, kita bisa mencegahnya,” tutupnya. (adv/diskominfokutim/yud)