KALTIMVOICE.ID, SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus menunjukkan komitmen nyata dalam memperkuat sistem pendidikan inklusif. Melalui program pelatihan dan pendidikan khusus bagi guru, Pemkab Kutim memastikan setiap sekolah di wilayahnya memiliki minimal satu guru inklusi untuk mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus (ABK).
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutim, Mulyono, mengatakan, hingga saat ini sudah ada 121 guru inklusi yang lulus pelatihan dan pendidikan formal. Sementara itu, sekitar 300 guru lainnya sedang menempuh kuliah program inklusi di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). “Kami ingin memastikan tidak ada anak yang tertinggal hanya karena keterbatasan fisik atau kondisi khusus. Semua sekolah nanti punya minimal satu guru inklusi,” ujarnya, Rabu (12/11/25).
Program ini merupakan bagian dari kebijakan pendidikan berkeadilan yang telah dijalankan sejak 2024. Pemerintah menargetkan jumlah guru inklusi bertambah menjadi 600 orang pada tahun depan, melalui kerja sama dengan universitas mitra. “Kami tidak cukup hanya dengan pelatihan singkat atau bimtek. Para guru harus kuliah dan punya kompetensi akademik agar benar-benar mampu mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus,” jelas Mulyono.
Langkah ini diambil karena keberadaan Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kutim masih terbatas dan belum dapat menjangkau seluruh kecamatan. Dengan menempatkan guru inklusi di sekolah reguler, anak-anak berkebutuhan khusus tetap bisa belajar bersama teman-teman sebayanya.
“Konsepnya bukan lagi satu sekolah inklusi, tapi semua sekolah harus siap menjadi inklusif,” tegasnya.
Kebijakan ini menjadi tonggak penting bagi reformasi pendidikan di Kutim menuju sistem yang lebih adaptif, dan setara, di mana setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan berkembang. (adv/diskominfokutim/yud)