KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA — Uji coba insinerator di Kota Samarinda turut menyoroti persoalan mendasar dalam pengelolaan sampah, yakni masih bercampurnya sampah dari Tempat Penampungan Sementara (TPS). Kondisi ini dinilai menjadi tantangan dalam memaksimalkan kinerja mesin pengolah sampah tersebut.
Uji coba yang berlangsung di kawasan Bengkuring, Jalan Wanyi, Kecamatan Samarinda Utara memperlihatkan bagaimana sampah yang diangkut dari TPS datang dalam kondisi bercampur (mixed waste) saat diturunkan dari truk.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Samarinda, Muhammad Taufiq Fajar, menyebut kondisi ini berdampak pada efektivitas proses pembakaran, karena setiap jenis sampah memiliki karakteristik berbeda.
“Selama ini sampah yang datang dari TPS masih campur, jadi agak menyulitkan” katanya.
Menurutnya, sampah basah membutuhkan suhu pembakaran lebih tinggi agar tidak menimbulkan asap berlebih. Dalam kondisi ideal, sampah jenis ini baru dapat dibakar optimal pada suhu di atas 800 derajat Celsius, sementara proses awal pembakaran biasanya dimulai saat suhu mencapai sekitar 600 derajat.
“Kalau sampah basah biasanya di atas 800 derajat baru dimasukkan. Kalau masih di bawah itu pembakarannya tidak maksimal sehingga mengasilkan asap,” jelasnya.
Perbedaan kebutuhan suhu tersebut menjadi kendala ketika sampah yang masuk tidak terpilah. Akibatnya, petugas harus melakukan pemilahan sebelum sampah dimasukkan ke mesin pembakaran sehingga memakan waktu lebih lama dan kurang efisien.
Melihat kondisi tersebut, DLH Samarinda mulai mendorong perubahan pola dari hulu, dengan mengajak masyarakat untuk melakukan pemilahan sampah sejak dari rumah tangga. Langkah ini diharapkan dapat membantu mempercepat proses kerja insinerator sekaligus menjaga kerapian area operasional. “Nanti kita arahkan supaya ada pemilahan sampah rumah tangga. Supaya mempercepat pekerjaan petugas,” jelasnya.
Di sisi lain, uji coba ini juga menjadi bagian dari pelatihan bagi petugas. Sebanyak 15 orang dari tiga wilayah, yakni Lempake, Bukit Pinang, dan Bengkuring digabungkan untuk memahami alur kerja operasional secara menyeluruh.
Penggabungan petugas ini, kata Taufik, dilakukan karena dari total 10 titik insinerator yang disiapkan pemerintah, baru tiga lokasi yang saat ini masuk tahap uji coba operasional.
Dalam proses pelatihan tersebut, proses kerja dimulai sejak pagi dengan pengecekan kondisi mesin, dilanjutkan pemanasan menggunakan kayu selama kurang lebih 30 menit. Setelah suhu mencapai sekitar 600 derajat Celsius, sampah mulai dimasukkan ke dalam tungku secara bertahap.
Proses pembakaran berlangsung hingga siang hari, sekitar pukul 13.00 hingga 14.00 Wita. Setelah itu, petugas memasuki tahap pendinginan dengan memastikan api benar-benar padam sebelum meninggalkan lokasi. “Saat proses pendinginan ini petugas harus standby memastikan api mati, setelah itu baru bisa pulang,” ujarnya.
Lebih lanjut, Taufik menegaskan bahwa uji coba ini masih dalam tahap awal, sehingga evaluasi terus dilakukan untuk menemukan pola operasional yang paling efektif di lapangan. “Ini program baru, jadi kita masih terus evaluasi sambil mencari pola yang paling sesuai di lapangan,” tegasnya.
DLH Samarinda menilai keberhasilan program insinerator di Samarinda tidak hanya ditentukan kesiapan teknologi dan operator, tetapi juga keterlibatan masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah tangga agar proses pengolahan di lapangan bisa berjalan lebih efektif. (mell)