KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Setiap hari, Caca harus berjalan kaki sekitar 5 kilometer untuk menuju SMP Negeri 31 Palaran, Samarinda. Jarak yang sama kembali ditempuhnya saat pulang, sehingga total perjalanan yang harus dilalui mencapai sekitar 10 kilometer dalam sehari.
Perjalanan itu tidak selalu mudah. Sebagian akses menuju rumah Caca berupa jalan berbatu dan sepi. Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk tetap bersekolah.
Perjuangan Caca kemudian diketahui pihak sekolah setelah seorang guru bernama Nur menemukan Caca berjalan kaki seorang diri. Guru tersebut kemudian menggonceng Caca hingga ke rumah dan dari situlah pihak sekolah mulai mengetahui kondisi yang dihadapi siswinya.
Kondisi Caca turut mendapat perhatian Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC-PPA) Kaltim bersama Satlantas Polresta Samarinda, Kelurahan Simpang Pasir, dan pihak sekolah. Pada Jumat (14/8/2026), mereka memberikan bantuan berupa sepeda, sembako, seragam sekolah, peralatan tulis, dan sepatu.
Ketua TRC-PPA Kaltim, Rina Zainun mengatakan, bantuan tersebut diberikan setelah pihaknya mengetahui Caca harus menempuh jarak cukup jauh dengan kondisi akses yang tidak mudah untuk menuju sekolah.
“Caca sekolah dengan berjalan kaki menempuh jarak 5 kilometer. Kalau pulang pergi 10 kilometer, dengan kondisi jalan yang jauh dan sebagian berbatu,” kata Rina.
Dari penelusuran tersebut, diketahui Caca berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas. Ayahnya bekerja sebagai buruh serabutan, sementara ibunya merupakan ibu rumah tangga dan mengalami gangguan pendengaran. Di rumah, Caca juga memiliki kakak yang saat ini dalam kondisi lumpuh.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan sehari-hari Caca tidak selalu mudah terpenuhi. Rina menyebut, Caca bahkan terkadang datang ke sekolah dalam keadaan belum sarapan.
“Kadang kasihan, anak ini ke sekolah dalam kondisi lapar,” ujarnya.
Pihak sekolah sebelumnya juga berupaya membantu agar Caca tetap dapat bersekolah dengan lebih aman. Kepala SMP Negeri 31 Palaran, Sutiwi, mengatakan guru secara bergantian mengantar Caca pulang setelah mengetahui jarak rumahnya.
Sekolah bahkan sempat meminta bantuan anggota OSIS untuk mengantar Caca. Namun, upaya tersebut kemudian dihentikan karena mempertimbangkan keselamatan siswa lain, mengingat perjalanan menuju rumah Caca harus melewati jalan besar.
“Kami berpikir kalau anak OSIS yang mengantar juga bahaya karena harus melewati jalan besar,” kata Sutiwi.
Selain mengantar pulang, sekolah juga berupaya memenuhi kebutuhan Caca selama mengikuti kegiatan belajar. Nasi dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tidak dimakan siswa lain diberikan kepada Caca untuk dibawa pulang.
Sekolah turut membantu sejumlah perlengkapan yang belum dimiliki Caca secara lengkap, seperti seragam, kaus kaki, dan jilbab.
Di sekolah, Caca dikenal sebagai siswi yang rajin dan memiliki semangat belajar tinggi. Meski baru sekitar satu bulan bersekolah di SMP Negeri 31 Palaran setelah pindah dari SMP Negeri 28 Samarinda, semangatnya untuk hadir dan mengikuti pembelajaran menjadi perhatian para guru.
Sutiwi mengatakan, pada awal masuk sekolah, Caca sempat beberapa kali terlambat. Pihak sekolah kemudian mencari tahu penyebabnya hingga mengetahui jarak rumah Caca yang cukup jauh.
“Caca ini anaknya rajin. Walaupun rumahnya jauh dan kadang datang belum sarapan, dia tetap sekolah. Semangatnya luar biasa,” ungkap Sutiwi.
Dari sisi akademik, pihak sekolah masih melakukan pemantauan karena Caca baru sebulan bergabung. Namun, berdasarkan rapor dari sekolah sebelumnya, sejumlah nilainya tergolong baik, salah satunya pada mata pelajaran IPS.
Kini, bantuan sepeda diharapkan dapat meringankan perjalanan Caca menuju sekolah, terutama saat harus melewati akses yang jauh dari permukiman dan sebagian masih berbatu. Bantuan perlengkapan sekolah dan kebutuhan pokok juga diharapkan dapat membantu Caca tetap mengikuti pembelajaran dengan lebih nyaman.
Bagi pihak sekolah, perjuangan Caca untuk tetap datang ke sekolah meski harus menempuh perjalanan panjang menjadi hal yang patut diapresiasi dan ditularkan kepada siswa lainnya.
“Semangatnya untuk belajar dan hadir tepat waktu itu ada dalam diri Caca. Semangat seperti ini mungkin tidak dimiliki semua anak, dan justru itu yang perlu ditularkan kepada teman-temannya,” tandas Sutiwi. (mell)