merah hitam putih modern berita terkini banner youtube

Tradisi Bubur Peca Hidupkan Ramadan di Masjid Tertua Samarinda

img 20260221 wa0008
Tradisi Bubur Peca Hidupkan Ramadan di Masjid Tertua Samarinda.

KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA — Suasana Ramadan di Masjid Shirathal Mustaqiem selalu memiliki warna tersendiri. Masjid tertua di Samarinda ini mempertahankan tradisi berbuka puasa dengan hidangan khas bubur peca, kuliner lokal yang telah diwariskan lintas generasi dan menjadi bagian identitas masyarakat Samarinda Seberang.

Tradisi tersebut tidak hanya sekadar menyediakan makanan berbuka, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan warga. Setiap Ramadan, jamaah, relawan, dan donatur bergotong royong memastikan hidangan tersedia bagi siapa pun yang datang, menjadikan masjid sebagai ruang sosial sekaligus spiritual.

Pengurus masjid, Ishak Ismail, mengatakan bubur peca sudah lama menjadi tradisi tahunan yang melekat dengan kehidupan masyarakat sekitar. “Buka puasa dengan bubur peca sudah menjadi tradisi masyarakat Samarinda Seberang sejak lama,” ujarnya.

img 20260221 wa0009

Ishak menuturkan, kegiatan ini berlangsung setiap hari sepanjang Ramadan, mulai hari pertama hingga penutup bulan suci. Kehadiran bubur peca bukan hanya untuk mengenyangkan, tetapi juga menghadirkan rasa kebersamaan di antara jamaah.

Ia menjelaskan, seluruh kebutuhan kegiatan bersumber dari donasi masyarakat dan jamaah yang secara rutin berpartisipasi. Pengurus masjid juga menyampaikan laporan bantuan secara terbuka setiap malam sebelum salat tarawih sebagai bentuk transparansi. “Semua bantuan dari jamaah dan donatur kami umumkan setiap malam sebelum tarawih,” jelasnya.

Dalam pelaksanaannya, jumlah jamaah yang berbuka bisa mencapai ratusan orang per hari. Tidak hanya warga sekitar, banyak pula pengunjung dari luar daerah yang sengaja datang untuk merasakan suasana berbuka di masjid bersejarah tersebut. “Setiap harinya, masjid mampu melayani hingga 500 orang yang ingin berbuka puasa,” ujarnya.

Tradisi kuliner ini bahkan memiliki nilai budaya yang diakui secara nasional. Pada 2025, bubur peca yang disajikan dalam kegiatan berbuka di masjid tersebut ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda, menegaskan perannya sebagai bagian dari identitas budaya lokal yang terus dijaga keberlangsungannya.

Masjid Shirathal Mustaqiem selalu terbuka bagi masyarakat yang ingin merasakan suasana berbuka bersama, termasuk rombongan dari luar daerah, dengan terlebih dahulu menyampaikan informasi agar persiapan porsi dapat dilakukan dengan baik. “Jika ada rombongan atau tamu dalam jumlah besar, mohon sebelumnya diinformasikan agar semua bisa mendapat porsi yang cukup.” tutupnya. (mell)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *