KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Anggota Tim Ahli Gubernur Kalimantan Timur, Sudarno, menilai pernyataan Gubernur Kalimantan Timur terkait lampu di Jembatan Mahkota II yang disebut tidak menyala kemungkinan terjadi akibat kekeliruan informasi.
Menurut Sudarno, Wali Kota Samarinda Andi Harun tidak perlu menanggapi persoalan tersebut secara berlebihan. Ia justru berharap komunikasi antara Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dan Pemerintah Kota Samarinda semakin intens agar tidak terjadi kesalahpahaman di kemudian hari.
“Pak Wali santai saja menanggapi pernyataan Pak Gubernur kemarin soal lampu Jembatan Mahkota II yang tidak menyala. Kemungkinan besar Pak Gubernur hanya mendapat informasi yang kurang tepat,” ujar Sudarno, Kamis (23/7/2026).
Ia menyarankan agar Gubernur Rudy Mas’ud dan Wali Kota Andi Harun lebih sering bertemu dan berdiskusi, tidak hanya membahas pembangunan infrastruktur, tetapi juga berbagai persoalan yang dihadapi Kota Samarinda.
Menurutnya, salah satu isu yang perlu menjadi perhatian bersama adalah meningkatnya angka perceraian di Samarinda yang dipicu persoalan ekonomi.
“Ke depan Pak Wali dan Pak Gubernur bisa lebih sering ngobrol bareng. Selain membahas kebutuhan pembangunan Samarinda, juga persoalan sosial seperti tingginya angka perceraian akibat masalah ekonomi yang perlu dicarikan solusi bersama,” katanya.
Sudarno kembali menegaskan bahwa persoalan lampu Jembatan Mahkota II diduga hanya disebabkan kesalahan informasi yang diterima Gubernur. Karena itu, ia berharap komunikasi informal antara kedua kepala daerah dapat semakin mempererat koordinasi.
“Intinya, kemungkinan besar hanya salah informasi. Lain kali bisa ngopi bareng saja, Pak Andi Harun dengan Pak Gubernur. Kalau tidak sempat, saya siap menemani,” tandasnya. (Mzhra)