merah hitam putih modern berita terkini banner youtube

Kesadaran Warga Meningkat, Kasus DBD di Kaltim Turun Drastis

whatsapp image 2025 10 10 at 15.42.00 4ba5edf3
foto: ilustrasi.

KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Upaya pencegahan dan kesadaran masyarakat menjaga kebersihan lingkungan membuahkan hasil positif. Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kalimantan Timur (Kaltim) menunjukkan penurunan signifikan dalam dua tahun terakhir.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim, Jaya Mualimin, menyebut tren ini merupakan hasil kerja bersama antara pemerintah dan masyarakat. Meski demikian, ia menegaskan, penyakit DBD masih menjadi ancaman serius yang perlu diwaspadai.

“Kesadaran masyarakat sangat penting dalam mencegah penyebaran DBD. Mari bersama-sama menjaga lingkungan agar tetap bersih, menghindari genangan air, dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami demam yang tidak biasa,” ujar Jaya, Jumat (10/10/25).

Ia menjelaskan, langkah paling efektif pencegahan adalah gerakan 3M Plus, menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang dapat menampung air, serta menambah tindakan plus seperti menjaga kebersihan lingkungan, mengubur barang bekas, dan membakar sampah yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.

Data Dinkes Kaltim menunjukkan, setelah pandemi COVID-19 berakhir, kasus DBD sempat melonjak hingga 6.000 kasus per tahun. Namun, berkat berbagai inovasi penanganan dan edukasi masyarakat, angka tersebut terus menurun. Pada tahun 2023 tercatat 45 kasus kematian, sedangkan hingga September 2025 jumlahnya turun drastis menjadi 11 kasus.

Meski tren menurun, beberapa daerah masih menjadi perhatian. Balikpapan menjadi penyumbang kasus tertinggi dengan 987 kasus, disusul Kutai Kartanegara (689 kasus), Samarinda (544 kasus), Kutai Timur (400 kasus), Bontang (287 kasus), Paser (272 kasus), Penajam Paser Utara (174 kasus), Kutai Barat (166 kasus), Berau (51 kasus), dan Mahakam Ulu (8 kasus).

Sementara itu, sebaran kematian akibat DBD lebih merata. Masing-masing dua kasus tercatat di Kutai Barat dan Kutai Timur, sedangkan sisanya terjadi di Paser, Bontang, Kutai Kartanegara, Penajam Paser Utara, Berau, Samarinda, serta Balikpapan.

Menurutnya, Kaltim tergolong daerah endemik karena memiliki iklim tropis dan curah hujan yang tidak menentu. Kondisi tersebut ideal bagi perkembangan nyamuk Aedes aegypti, penyebab utama penularan DBD. Analisis Dinkes juga menemukan sebagian besar kasus terjadi pada anak-anak usia sekolah di bawah 14 tahun.

Untuk itu, Dinkes Kaltim menggandeng sekolah dasar guna meningkatkan edukasi dan pemeriksaan dini.“Kami mewajibkan seluruh fasilitas kesehatan, baik rumah sakit maupun puskesmas, untuk menyediakan tes cepat DBD. Hasilnya bisa diketahui dalam waktu 15 menit agar penanganan bisa dilakukan sedini mungkin,” ungkapnya.

Ia mengingatkan, sarang nyamuk umumnya ditemukan di wadah air tergenang seperti botol bekas, kaleng, pot bunga, dan tempat minum hewan. Karena itu, masyarakat diminta rutin melakukan pemberantasan sarang nyamuk di sekitar rumah. “Nyamuk ada di sekitar kita, tapi dengan menjaga kebersihan lingkungan, mereka tidak akan berkembang biak. Mari bersama wujudkan Kaltim bebas DBD,” tutupnya. (yud)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *