KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Target swasembada pangan tahun 2027 yang dicanangkan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur bukan perkara kecil. Di atas kertas, Kaltim memang menargetkan kemandirian, termasuk dari sektor peternakan. Namun di lapangan, jurang besar antara kebutuhan dan ketersediaan ternak masih menjadi tantangan utama.
Saat ini, jumlah sapi di Kaltim hanya berada di kisaran 60–70 ribu ekor. Padahal, kebutuhan untuk menopang swasembada diperkirakan mencapai tambahan 500 hingga 600 ribu ekor. Selisih yang begitu lebar membuat pemerintah daerah harus memutar otak mencari cara agar ambisi besar tersebut tidak sekadar wacana.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kaltim Fahmi Himawan, menyebut pihaknya sudah menyiapkan dua jalur strategi. Pertama, melalui pemberdayaan masyarakat desa dengan program Pengembangan Desa Korporasi Ternak (PDKT). kedua, melalui suntikan investasi swasta.
“Untuk berbasis ekonomi kerakyatan seperti PDKT, pengembangan desa korporasi ternak, itu berbasis ekonomi kerakyatan dengan korporasi,” ucap Fahmi, Jum’at (3/10/2025).
Namun, skema PDKT dinilai belum cukup. Dari hitungan pemerintah, kontribusinya baru bisa menutup sekitar 20 persen kebutuhan. Sisanya, 80 persen harus datang dari investor yang berminat mengembangkan peternakan di Bumi Etam.
Tidak hanya soal sapi, Kaltim juga mulai melirik ternak domba sebagai penguat populasi ruminansia. Domba dinilai lebih tahan terhadap penyakit, tetapi penataannya harus hati-hati. Risiko penularan terhadap sapi Bali membuat aturan jarak antarpeternakan wajib ditegakkan.
Fahmi menjelaskan, fokus utama swasembada tetap pada kelompok ruminansia, seperti sapi, kerbau, kambing, dan domba karena menjadi sumber protein utama. “Sementara ini sapi kita yang ada di Kalimantan Timur itu baru berjumlah 60–70 ribu, jadi masih banyak yang harus kita lakukan,” tegasnya.
Di sisi lain, sektor unggas justru memberi optimisme lebih. Pemerintah yakin swasembada daging ayam bisa tercapai lebih cepat, bahkan sebelum 2029. Masifnya pembangunan kandang modern tipe closed house menjadi salah satu pendorong.
Adapun untuk telur, langkahnya masih tertatih. Capaian swasembada diperkirakan membutuhkan waktu tambahan. Saat ini, pemerintah sedang menghitung secara detail kapasitas produksi agar sesuai dengan potensi daerah. “Tapi kami akan lakukan perhitungan lebih tepat berdasarkan dengan potensi yang ada di Kalimantan Timur,” tutup Fahmi. (ns)