KALTIMVOICE.ID, SANGATTA – Harga cabai dari luar daerah di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mengalami penurunan tajam dalam beberapa pekan terakhir. Alih-alih menguntungkan konsumen, kondisi ini justru membuat pedagang merugi karena banyak yang terpaksa menjual di bawah harga modal. Pemerintah Kabupaten Kutim kini berkoordinasi dengan Pemprov Kalimantan Timur untuk mencari formula penanganan deflasi komoditas tersebut.
Pejabat Fungsional Pengawas Perdagangan Ahli Muda Disperindag Kutim, Achmad Dony Erviady, menjelaskan, pasokan cabai dari Sulawesi dan Jawa masuk dalam jumlah besar sehingga terjadi kelebihan suplai. “Harga lombok luar daerah turun cukup signifikan. Biasanya dijual dengan margin yang lebih stabil, tetapi sekarang beberapa pedagang bahkan menjual dengan harga di bawah modal,” ujarnya, Sabtu (15/11/2025).
Penurunan harga ini menjadi ancaman bagi keberlanjutan usaha pedagang kecil. Jika pedagang merugi terus-menerus, mereka dapat menghentikan penjualan sementara atau mengurangi pasokan, yang pada akhirnya mengganggu stabilitas pasar. “Pedagang itu rantai penting dalam ketersediaan pangan. Kalau mereka tutup, suplai bisa terganggu,” kata Dony.
Sementara itu, harga cabai lokal relatif stabil karena volumenya kecil dan memiliki segmen pasar tersendiri. Namun cabai lokal tidak bisa memenuhi seluruh kebutuhan, sehingga harga cabai luar daerah tetap dominan memengaruhi pasar.
Untuk mengantisipasi dampak lebih luas, Disperindag Kutim melakukan pemantauan intensif terhadap pasokan dan melaporkan kondisi tersebut ke Pemprov Kaltim. “Jika perlu, distribusi cabai dari luar bisa dikurangi sementara agar harga kembali stabil,” jelasnya.
Dony mengimbau pedagang untuk tetap menjual sesuai kondisi pasar dan tidak melakukan aksi spekulatif jika pasokan tiba-tiba berkurang. Pemerintah memastikan pemantauan dilakukan setiap hari untuk menjaga keseimbangan harga dan keberlanjutan usaha pedagang. (adv/diskominfokutim/yud)