KALTIMVOICE.ID, SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mengakui bahwa upaya menurunkan harga kebutuhan pokok di daerah ini menghadapi tantangan berat. Struktur biaya distribusi yang panjang dan mahal menjadi faktor utama yang membuat harga barang di Kutim sulit bergerak turun secara signifikan.
Pejabat Fungsional Pengawas Perdagangan Ahli Muda Disperindag Kutim, Achmad Dony Erviady, mengatakan, distribusi barang ke berbagai kecamatan memerlukan biaya besar. “Beberapa kecamatan bisa dua jam perjalanan dari Sangatta. Biaya angkutnya tinggi, sehingga berdampak langsung pada harga jual,” ujarnya.
Kutim bukan daerah produsen, sehingga semua barang kebutuhan masuk dari luar daerah. Rantai distribusi panjang dimulai dari pengiriman laut dari Surabaya atau Makassar, dilanjutkan dengan bongkar muat di pelabuhan luar daerah, kemudian masuk ke Kutim melalui jalur darat, dan akhirnya didistribusikan ke kecamatan-kecamatan.
Setiap tahapan memunculkan biaya tambahan yang akhirnya dibebankan pada harga jual barang. “Inilah yang membuat harga di Kutim tidak bisa disamakan dengan wilayah produsen. Logistik kita kompleks,” kata Dony, Sabtu (15/11/2025).
Kondisi jalan yang belum seluruhnya memadai juga memperburuk situasi. Ketika infrastruktur jalan rusak, kendaraan logistik membutuhkan lebih banyak waktu dan bahan bakar untuk mencapai kecamatan-kecamatan.
“Kalau jalan rusak, perjalanan makin lama dan bahan bakar makin banyak. Semua itu masuk dalam harga jual,” jelasnya.
Dony menegaskan, memahami struktur biaya distribusi menjadi dasar penting bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan pengendalian harga. Perbaikan infrastruktur menjadi solusi jangka panjang agar biaya logistik dapat ditekan. (adv/diskominfokutim/yud)