merah hitam putih modern berita terkini banner youtube

Ketika Pedagang Pasar Pagi Mengeluh Sejak Pagi

img 20260619 wa0003
Suasana kios sembako milik salah satu pedagang di lantai dua Pasar Pagi Samarinda. (Foto: mell/Kaltimvoice.id)

KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA — Revitalisasi Pasar Pagi Samarinda memang menghadirkan bangunan yang lebih modern dan tertata. Namun, di balik wajah baru pasar terbesar di Kota Tepian itu, tak sedikit pedagang yang memasang wajah merengut sejak pagi hari. Seperti matahari pagi yang kerap tertutup awan hitam di langit Samarinda, akhir-akhir ini. Mendung pun hadir di hati pedagang yang mengeluhkan sepinya pembeli.

Aji Surati (68), pedagang sembako yang telah menghabiskan 45 tahun hidupnya berjualan di Pasar Pagi, salah satunya. Enam bulan dia menempati gedung baru pasar ini. Apa daya, aktivitas perdagangan belum seramai yang diharapkan.

Saat ditemui, Aji bahkan mengaku belum memperoleh satu pun pembeli meski kiosnya telah buka sejak pagi. “Ini saja saya buka dari jam 9 pagi, sampai sekarang belum dapat pelaris. Rp1.000 saja belum masuk. Saya enggak ngomong kosong, memang kenyataannya begitu,” ujarnya saat ditemui di kiosnya, Jum’at (19/6/2016) siang.

Menurut Aji, persoalan utama bukan terletak pada bangunan pasar yang baru. Ia justru mengakui fasilitas saat ini jauh lebih nyaman dan bersih dibanding sebelumnya. Namun, akses menuju lantai dua dinilai menjadi hambatan yang membuat pembeli enggan naik.

“Pedagang di Pasar Pagi ini banyak yang ngeluh, terutama yang di lantai dua. Orang itu malas naik tangga. Tangga ke atas itu sekitar 30 sampai 35 anak tangga. Kalau yang muda mungkin masih kuat, lah kalau yang sudah sepuh bagaimana?” tanyanya.

Kondisi itu, lanjut Aji, berdampak langsung terhadap omzet pedagang. Kios-kios yang berada di bagian dalam maupun lantai atas menjadi yang paling terdampak karena minim lalu lalang pengunjung.

Ia menilai desain tata letak pasar turut berpengaruh terhadap sepinya pembeli. Menurutnya, lorong yang ada saat ini membuat arus pengunjung tidak merata. “Yang dapat pembeli ya kios-kios pinggir. Yang di dalam kasihan, enggak pernah dapat pelaris,” keluhnya.

Bagi Aji, perbedaan suasana pasar lama dan pasar baru sangat terasa. Dulu, pembeli dapat leluasa masuk dari berbagai sisi dan berjalan mengelilingi area perdagangan. Kini, pola pergerakan pengunjung dinilai lebih terbatas.

“Saya sudah 45 tahun jualan di Pasar Pagi. Kalau ditanya lebih ramai mana, ya jelas pasar yang dulu. Dulu lorongnya banyak, akses masuknya banyak. Orang bisa jalan ke sana ke sini,” tuturnya.

Ia juga menyoroti penempatan pedagang sembako yang dipisahkan dari komoditas lain seperti sayur, ikan, daging, dan ayam. Padahal menurutnya, kebiasaan masyarakat berbelanja kebutuhan pokok umumnya dilakukan secara bersamaan.

“Kalau sembako itu harusnya gandeng sama sayur, ikan, daging, ayam. Orang belanja kebutuhan sehari-hari kan sekalian. Lah kalau dipisah-pisah begini, siapa yang mau masuk ke sini?” katanya.

Meski tersedia fasilitas lift, Aji menilai keberadaannya belum cukup membantu karena lokasinya tidak berada di bagian depan pasar yang mudah dijangkau pengunjung.“Orang yang baru datang belum tentu tahu ada lift. Yang kelihatan pertama itu ya tangga,” ujarnya.

Saat ini, Aji memiliki empat kios di Pasar Pagi. Namun tidak semuanya dapat dibuka karena keterbatasan tenaga dan kondisi penjualan yang belum stabil. Menurutnya, membuka seluruh kios justru akan menambah beban biaya operasional.

Di tengah kondisi tersebut, ia memilih tetap bertahan sambil berharap pemerintah mengevaluasi kembali tata letak dan akses pasar agar aktivitas perdagangan bisa kembali hidup.

“Bangunannya memang lebih bagus, lebih bersih. Tapi kalau pembelinya enggak datang, pedagang juga susah. Harapan kami sederhana, pemerintah mau melihat apa yang benar-benar dirasakan pedagang di lapangan,” pungkasnya. (mell)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *