KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Tiga segmen Teras Samarinda Tahap II resmi dibuka untuk masyarakat, Sabtu (29/8/2026) malam. Peresmian mencakup Segmen 2, Segmen 3 di kawasan dermaga, dan Segmen 4, sementara Segmen 1 masih dalam pengerjaan dan ditargetkan menyusul pada akhir tahun.
Wali Kota Samarinda, Andi Harun, menyatakan pembukaan tiga segmen tersebut bukan menjadi titik akhir pengembangan Teras Samarinda. Pemerintah kota masih akan melanjutkan penataan kawasan tepian Sungai Mahakam itu, khususnya untuk menghidupkan fungsi ekonomi dan sosialnya.
“Fungsi fisiknya selesai malam hari ini. Akan masih kita kembangkan fungsi ekonominya,” ujar Andi Harun saat peresmian di kawasan Dermaga Pelabuhan Pasar Pagi Samarinda.
Segmen 1 nantinya berfungsi sebagai penghubung antara Teras Samarinda Tahap I dan kawasan tahap kedua. Pengerjaan segmen ini masih berlangsung dengan masa kontrak hingga Desember 2026, sehingga pemerintah menargetkan peresmiannya rampung pada akhir November atau paling lambat awal Desember.
Sementara itu, tiga segmen yang telah dibuka menghadirkan sejumlah fasilitas baru. Di Segmen 2 dan 3, tersedia ruang terbuka hijau seluas sekitar 1.558 meter persegi yang ditanami beragam vegetasi, di antaranya pulai, ketapang kencana, tabebuya, dan bungur siam.
Di kawasan dermaga seluas sekitar 2.115 meter persegi, pemerintah turut menyiapkan 12 kios modern untuk pelaku UMKM lokal. Namun, kios tersebut belum langsung dioperasikan lantaran pemerintah masih melakukan seleksi sekaligus mengkaji pola pengelolaannya.

“Pola dan manajemennya lagi dikaji sekarang. Mudah-mudahan satu minggu ke depan selesai,” kata Andi Harun.
Ia menambahkan, pemerintah masih mempertimbangkan skema pengelolaan kawasan ekonomi tersebut. Salah satu opsi yang dikaji adalah menggandeng pihak ketiga tanpa menggunakan APBD, atau pemerintah kota tetap menjadi penggerak utama seperti diterapkan pada Teras Samarinda Tahap I.
Dengan konsep tersebut, Teras Samarinda Tahap II diharapkan tidak sekadar menjadi ruang rekreasi warga. Kehadiran kios UMKM dan ruang publik di kawasan ini juga diproyeksikan membuka aktivitas ekonomi baru di tepian Mahakam.
Fasilitas publik turut melengkapi Segmen 4, mulai dari mini amphitheater untuk ruang ekspresi seni dan budaya, area bermain anak, halte bus terpadu, hingga jalur pedestrian berbahan andesit bakar yang dilengkapi guiding block guna mendukung akses penyandang disabilitas.
Guna menunjang kenyamanan pengunjung, kawasan ini juga dilengkapi sistem pencahayaan berupa lampu UFO, bollard, dan spotlight, serta fasilitas pendukung seperti jaringan CCTV, dua unit pos pengamanan, dan sistem drainase serta utilitas tertutup.
Meski telah diresmikan dan dibuka untuk umum, Andi Harun menegaskan masih ada sejumlah pekerjaan minor yang harus dirampungkan kontraktor. Pemerintah memberi tenggat 30 hari untuk penyempurnaan tersebut, sementara retensi sebesar 5 persen masih ditahan hingga seluruh catatan pekerjaan tuntas.
“Walaupun dilakukan peresmian, tapi jika masih ada pekerjaan-pekerjaan minor yang masih memerlukan lanjutan perbaikan, maka tanggung jawab kontraktor pelaksana masih ada 30 hari untuk memperbaiki,” tegasnya.
Penyelesaian pekerjaan minor ini menjadi bagian dari evaluasi sebelum proses Final Hand Over (FHO) dilakukan, termasuk memastikan sejumlah elemen kawasan seperti tanaman yang belum tumbuh atau kondisinya kurang baik diganti dan dipelihara sesuai hasil evaluasi pemerintah kota.
Di luar pembangunan fisik, Andi Harun berharap Teras Samarinda dapat berkembang sebagai ruang bersama yang menggerakkan aktivitas warga sekaligus roda perekonomian kota. Kehadiran kawasan ini dinilai mampu memberi efek berantai bagi UMKM, pariwisata, perhotelan, restoran, hingga sektor transportasi.
“Teras bukan sekadar ruang fisik yang dibangun oleh pemerintah kota. Ini adalah ruang bersama tempat warga bertemu, berinteraksi, dan menumbuhkan rasa cinta terhadap kota sendiri,” demikian Andi Harun. (mell)