merah hitam putih modern berita terkini banner youtube

Karhutla Kaltim Meluas di Tengah Kemarau El Nino, BPBD Siapkan Operasi Modifikasi Cuaca

whatsapp image 2026 08 27 at 20.24.59 (1)
Kepala Pelaksana BPBD Kaltim, Buyung Dodi (tengah) saat jumpa pers di Kantor Diskominfo Kaltim, Kamis (27/8/2026). (Foto: mell/Kaltimvoice.id)

KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur masih menjadi perhatian di tengah kondisi kemarau yang diperparah fenomena El Nino. Cuaca yang lebih panas dan panjang membuat vegetasi di permukaan tanah mengering sehingga lebih mudah terbakar.

Kepala Pelaksana BPBD Kaltim, Buyung Dodi, mengatakan kondisi kering tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat api lebih cepat menyebar. Pergerakan angin juga turut memengaruhi proses penyebaran api di lapangan.

“Kita sudah di musim kemarau dan musim kemarau itu diperparah dengan El Nino. Sehingga menjadi lebih panas, menjadi lebih panjang. Sehingga vegetasi di permukaan tanah ini menjadi lebih kering,” ujar Buyung saat jumpa pers di Kantor Diskominfo Kaltim, Kamis (27/8/2026).

Kondisi itu membuat sejumlah wilayah masih menghadapi kejadian karhutla. Buyung menyebut Paser menjadi salah satu daerah dengan kejadian terbanyak, sementara Kutai Kartanegara juga mencatat cukup banyak kejadian. Pendingin di Kecamatan Sanga-Sanga, Kutai Kartanegara, bahkan masih menjadi perhatian karena kebakaran kembali terjadi di kawasan tersebut.

Di sisi lain, data BMKG menunjukkan tingginya aktivitas titik panas di Kaltim. Sepanjang 1–26 Agustus 2026, terpantau 14.795 titik panas di Kaltim, jauh meningkat dibandingkan periode yang sama pada 2015, ketika wilayah Indonesia juga menghadapi puncak kemarau yang dibarengi El Nino.

Namun, Buyung mengingatkan bahwa titik panas yang terdeteksi satelit tidak serta-merta berarti seluruhnya merupakan kebakaran. Setiap titik tetap perlu diverifikasi di lapangan untuk memastikan sumber panas dan menentukan penanganan yang diperlukan.

whatsapp image 2026 08 27 at 20.24.59
Rekapitulasi sebaran hotspot (titik panas) di Kaltim periode 1–26 Agustus 2026. (Foto: mell/Kaltimvoice.id)

“Hotspot itu potensi. Jadi itu kan bacaan dari satelit bahwa ada anomali suhu di sana. Bisa jadi itu kebakaran, bisa jadi orang yang lagi bakar-bakar atau obor, bisa jadi atap seng,” jelasnya.

Menghadapi kondisi tersebut, BPBD Kaltim mulai menyusun rencana Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Langkah itu disiapkan bersamaan dengan proses penetapan status dan pembentukan posko, sebelum nantinya usulan OMC disampaikan kepada BNPB dan BMKG.

Pelaksanaan OMC sendiri bukan berarti pemerintah dapat menciptakan hujan dari kondisi langit yang benar-benar kering. Operasi tersebut bergantung pada keberadaan bibit awan dan kondisi angin yang mendukung agar penyemaian dapat menghasilkan hujan.

Karena itu, penentuan wilayah sasaran OMC nantinya akan mempertimbangkan potensi awan dan kondisi atmosfer. Buyung mengatakan faktor tersebut menjadi salah satu alasan mengapa operasi tidak bisa langsung dilakukan di seluruh wilayah Kaltim secara bersamaan.

“Kalau misal awannya tipis, bisa jadi ada gerimis-gerimis tapi bisa jadi tidak sampai karena panas sehingga menguap lagi itu. Jadi memang masa airnya harus cukup. Jadi semua itu ada perhitungannya,” jelasnya.

Sejumlah operasi serupa sebelumnya telah dilakukan di wilayah Kaltim. OMC di IKN berlangsung pada 22–27 Agustus untuk membantu mengatasi penurunan cadangan air Waduk Sepaku, sedangkan OMC di Berau berlangsung pada 24–28 Agustus untuk penanganan titik panas dan ancaman karhutla.

Untuk Kaltim secara lebih luas, BPBD masih mematangkan kebutuhan dan wilayah yang akan diajukan. Buyung mengatakan usulan tersebut nantinya akan disesuaikan dengan kondisi awan yang tersedia serta hasil koordinasi dengan BNPB dan BMKG.

Selain mengandalkan teknologi modifikasi cuaca, penanganan di lapangan juga terus dilakukan melalui pemantauan dan verifikasi titik panas. Tim gabungan dikerahkan untuk memastikan titik yang terdeteksi benar-benar merupakan kebakaran dan segera melakukan tindakan apabila api ditemukan.

Buyung juga menilai faktor manusia perlu menjadi perhatian dalam pencegahan karhutla. Sebab, kebakaran yang dipicu aktivitas manusia dapat ditekan melalui pengawasan dan kesadaran masyarakat, sehingga tidak menambah beban penanganan di tengah kondisi lahan yang memang sedang sangat kering.

“Kalau memang situ terjadi dengan faktor alam, ya okelah kita terima. Tapi yang faktor manusia inilah kalau misalkan kita kurangi,” pungkasnya. (mell)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *