KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA — Tiga Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kota Samarinda berhasil membukukan laba puluhan miliar rupiah sepanjang tahun buku 2025. Meski demikian, keuntungan tersebut belum otomatis disetorkan ke kas daerah karena Pemerintah Kota Samarinda masih mengkaji kondisi kesehatan masing-masing perusahaan sebelum menentukan besaran dividen yang akan masuk sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Kepala Bagian Ekonomi Setda Kota Samarinda, Nadya Turisna, mengungkapkan berdasarkan laporan keuangan yang telah diaudit, laba terbesar diperoleh Perumdam Tirta Kencana dengan nilai mencapai Rp53,678 miliar.
Sementara itu, Perumda Varia Niaga mencatat laba sebesar Rp10,123 miliar dan PT BPR atau Bank Samarinda membukukan keuntungan sekitar Rp2,742 miliar. “Kalau dari laporan keuangan yang sudah selesai diaudit, laba PDAM sekitar Rp53,6 miliar, Varia Niaga Rp10,1 miliar, dan BPR sekitar Rp2,7 miliar,” ujar Nadya.
Namun, besaran laba yang akan disetor ke PAD masih menunggu pembahasan bersama Kuasa Pemilik Modal (KPM), yakni Wali Kota Samarinda. Menurutnya, keputusan tersebut tidak hanya mempertimbangkan jumlah keuntungan, tetapi juga kondisi keuangan masing-masing BUMD.
Pasalnya, masih terdapat perusahaan yang memiliki kewajiban atau persoalan keuangan masa lalu yang harus diselesaikan terlebih dahulu agar keberlangsungan usaha tetap terjaga.
“Belum bisa langsung ditentukan karena harus dibahas dulu bersama KPM. Ada perusahaan yang memang laba, tetapi masih memiliki kewajiban yang perlu diselesaikan,” jelasnya.
Nadya menilai kinerja ketiga BUMD tersebut menunjukkan tren positif dibanding beberapa tahun sebelumnya. Salah satu yang menjadi sorotan adalah PT BPR atau Bank Samarinda yang untuk pertama kalinya mampu mencetak laba setelah bertahun-tahun mengalami kerugian. “Kalau BPR ini baru sekarang bisa menghasilkan laba setelah hampir dua dekade. Dari sisi kesehatan perusahaan juga semakin baik,” katanya.
Perkembangan positif juga terlihat pada Perumda Varia Niaga. Jika sebelumnya hanya mengelola tiga unit usaha, kini perusahaan daerah tersebut telah mengembangkan delapan unit usaha yang seluruhnya menghasilkan keuntungan.
Menurut Nadya, keberhasilan tersebut tidak lepas dari kebijakan efisiensi yang terus didorong Pemerintah Kota Samarinda terhadap seluruh BUMD. “Pak Wali selalu menekankan operasional harus efisien. Belanja pegawai jangan terlalu besar, kegiatan yang tidak terlalu penting juga harus ditekan. Jadi perusahaan bisa lebih sehat,” ujarnya.
Sementara untuk Perumdam Tirta Kencana, laba tahun 2025 memang sedikit menurun dibanding tahun sebelumnya. Namun, kondisi tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk investasi pembangunan infrastruktur perpipaan yang manfaat ekonominya belum sepenuhnya dirasakan.
Meski laba ketiga BUMD cukup besar, Pemkot Samarinda tidak ingin seluruh keuntungan langsung ditarik menjadi PAD. Pemerintah memilih menjaga keseimbangan antara kontribusi terhadap daerah dan kesehatan perusahaan.
“Jangan sampai semua laba disetor ke PAD, tapi kemudian perusahaan kembali kesulitan. Prinsipnya harus seimbang, perusahaan tetap sehat dan PAD juga tetap bertambah,” tegas Nadya.
Ia menambahkan, khusus untuk BPR dan Varia Niaga, sebagian laba juga masih diarahkan untuk membantu penyelesaian kewajiban masa lalu yang selama ini menjadi beban perusahaan. “Pak Wali ingin persoalan-persoalan lama itu diselesaikan pelan-pelan. Jadi tidak meninggalkan masalah untuk ke depan, tetapi juga memastikan kinerja perusahaan terus meningkat.” pungkasnya. (mell)