KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Populasi Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris), mamalia air endemik Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, terus menurun hingga berada di ambang kepunahan. Satwa yang menjadi ikon biodiversitas Kaltim itu kini berstatus critically endangered dalam daftar merah IUCN dan masuk Appendiks I CITES.
Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Kementerian Lingkungan Hidup, Inge Retnowati, mengungkapkan berdasarkan data Yayasan Konservasi RASI tahun 2024, jumlah pesut hanya tersisa 62 individu.
“Kondisi saat ini populasi Pesut di Sungai Mahakam cenderung menurun, sementara perkembangbiakannya sangat sulit. Sekitar 67 persen kematian pesut disebabkan oleh jaring insang yang salah pasang, membuat mereka rentan terjebak dan terluka,” ujarnya, Rabu (1/10/2025).
Selain ancaman jaring insang, pesut Mahakam juga kerap terperangkap jaring ikan, terkena setrum dan bahan peledak, hingga menjadi korban pencemaran limbah pertambangan, perkebunan, dan rumah tangga. Padatnya lalu lintas kapal tongkang di Sungai Mahakam juga memperbesar risiko pesut tertabrak.
Menghadapi kondisi tersebut, Direktorat Konservasi Kehati KLHK menegaskan pentingnya menjalankan asas keberlanjutan biodiversitas sebagaimana diatur dalam UU 32/2009, mulai dari perlindungan keanekaragaman hayati, prinsip pembangunan berkelanjutan, hingga pemeliharaan fungsi lingkungan hidup.
Inge menekankan perlunya kolaborasi semua pihak dalam upaya konservasi. “Terkait kolaborasi supaya pemberdayaan dan lingkungan. Ya, ini bukan cuma romantisme lingkungan, romantisme menyelamatkan lingkungan raga manusia. Tapi ini sebuah basis pembangunan yang kita sangat banggakan, sangat bisa kita sayangi. Sehingga kalau kita kolaborasikan ini menjadi potensi pembangunan bangsa, terutama Kaltim. Jelas ada peran kita di situ,” tegasnya.
Peneliti sekaligus pendiri Yayasan Konservasi RASI, Daniela Kreb, menyampaikan, solusi terbaik bukanlah penangkaran, melainkan menjaga habitat pesut tetap lestari. “Pesut Mahakam adalah hewan sosial dengan kecerdasan tinggi. Mereka membutuhkan kebebasan di habitat aslinya, bukan dipelihara di kolam. Habitat yang aman dan sumber makanan yang terjaga adalah kunci kelangsungan hidupnya,” jelasnya.
Selain upaya pemerintah, peran masyarakat juga dinilai penting. Edukasi lingkungan, pengawasan bersama, hingga pengembangan ekowisata berbasis pesut Mahakam menjadi alternatif solusi yang tidak hanya menjaga kelestarian satwa, tetapi juga memberi manfaat ekonomi bagi warga lokal.
Pesut Mahakam bukan hanya simbol kekayaan hayati Kalimantan Timur, tetapi juga indikator penting kesehatan ekosistem Sungai Mahakam. (yud)