merah hitam putih modern berita terkini banner youtube

Gubernur Tak Hadir, BEM Unmul Tetap Gelar Panggung Rakyat Reformasi Jilid II

img 20260506 wa0016
Mahasiswa menyuarakan tuntutan debat terbuka melalui aksi teatrikal dalam Panggung Rakyat Reformasi Jilid II di Teras Samarinda, Rabu (6/5/2026). (mell/Kaltimvoice.id)

KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA — Rencana menghadirkan Gubernur Kalimantan Timur dalam forum “Panggung Rakyat & Diskusi Imajinasi Reformasi Jilid II” tak terwujud. Meski undangan dan tantangan debat terbuka telah berulang kali dilayangkan, kegiatan tetap digelar di Teras Samarinda oleh mahasiswa sebagai ruang menyampaikan keresahan publik tanpa kehadiran pihak yang ditunggu.

Presiden BEM KM Universitas Mulawarman, Hiththan Hersya Putra, menyebut forum ini merupakan kelanjutan dari aksi 23 Februari 2026 yang digelar Aliansi Gerakan Rakyat Menggugat (GERAM) di depan Kantor Gubernur Kaltim.

Ia menjelaskan, sejak awal mahasiswa memang menginginkan forum debat terbuka dengan Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud. Bahkan, undangan telah dikirimkan secara resmi dan terus ditindaklanjuti. “Dari sebelum aksi kami sudah kirim surat tantangan debat, saat aksi juga kami sampaikan langsung, dan setelah itu kami terus follow up, bahkan seminggu sekali,” ujarnya, Rabu (6/5/2026).

Namun hingga forum digelar, kata dia, tidak ada kepastian kehadiran maupun respons resmi dari gubernur. “Hari ini kita bisa lihat tidak pernah ada angin segar, apakah gubernur mau berdebat atau tidak,” katanya.

Hiththan mengungkapkan, sempat ada komunikasi dari Sudarno, anggota Tim Ahli Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TAGUPP) yang mencoba mengubah format kegiatan dari debat menjadi diskusi. Namun, tawaran tersebut ditolak.

“Gubernur memang tidak pernah merespons langsung. Kemudian ada konfirmasi dari TAGUPP yang mencoba bernegosiasi agar formatnya diubah menjadi diskusi, tapi itu tidak kami terima,” tegasnya.

Menurutnya, debat terbuka menjadi bentuk paling mendasar untuk menguji sekaligus mempertanggungjawabkan berbagai polemik yang tengah terjadi. “Yang paling mudah itu mempertanggungjawabkan lewat argumentasi. Apa yang disampaikan harus siap diperdebatkan,” ucapnya.

Meski tanpa kehadiran gubernur, mahasiswa tetap melanjutkan agenda sebagai bentuk konsistensi gerakan. Melalui forum Panggung Rakyat ini, mahasiswa mengaku tidak hanya berhenti pada satu momentum. Mereka menegaskan gerakan akan terus berlanjut dalam berbagai bentuk. “Kalau ditanya ini akhir, tentu tidak. Perjuangan akan terus ada, perjuangan akan dilakukan terus-menerus, aksi berjilid-jilid dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya.” pungkasnya. (mell)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *