KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA — Di tengah megahnya pembangunan berbagai proyek infrastruktur di Kota Samarinda, ada potret lain yang justru terasa kontras. Siswa SMP Negeri 24 Samarinda masih harus belajar di sekolah yang hampir setiap tahun jadi langganan banjir.
Saat hujan deras turun, air kerap masuk ke lingkungan sekolah hingga merendam beberapa ruang kelas. Kondisi itu bukan sekali dua kali terjadi. Bagi para siswa, belajar di tengah ancaman banjir adalah kenyataan yang harus mereka hadapi berulang kali.
Situasi tersebut terasa semakin memprihatinkan ketika di sisi lain pembangunan berbagai proyek besar terus berjalan di Kota Samarinda. Kawasan Teras Samarinda berdiri megah di tepian Sungai Mahakam, revitalisasi Pasar Pagi Samarinda menelan anggaran ratusan miliar rupiah, hingga proyek terowongan kota yang nilainya juga sangat besar.
Anggota DPRD Kota Samarinda, Adnan Faridhan, menyebut kondisi tersebut sebagai ironi yang seharusnya menjadi perhatian bersama. “Ini ironis. Kita di Samarinda bisa membangun Teras Samarinda yang begitu megah, Pasar Pagi yang begitu keren, bahkan proyek terowongan dengan nilai sampai setengah triliun,” ujarnya, Senin (16/3/2026).
Menurutnya, sudah sekitar empat tahun pihak sekolah mengajukan pembangunan gedung baru. Namun, hingga kini, anggaran tersebut belum juga terealisasi. Ia menggambarkan bagaimana para siswa harus tetap datang ke sekolah meski kondisi lingkungan belajar mereka sering terdampak banjir. Bahkan, kepala sekolah disebut sudah berkali-kali menyuarakan kebutuhan perbaikan fasilitas tersebut.
“Ada anak sekolah yang setiap hujan kebanjiran, sekolahnya tenggelam. Kepala sekolahnya sudah berteriak-teriak minta diperbaiki, tapi anggarannya tidak muncul-muncul,” jelasnya.
Adnan menegaskan bahwa pendidikan seharusnya menjadi prioritas utama dalam kebijakan anggaran pemerintah daerah. Hal itu juga sejalan dengan aturan yang mewajibkan alokasi anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari total Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Menurutnya, kebutuhan pembangunan sekolah yang menyangkut masa depan anak-anak seharusnya lebih diprioritaskan dibanding proyek lain yang masih memiliki alternatif penggunaan. “Kenapa tidak sekolah dulu. Urgensinya mana yang lebih penting,” katanya.
Lebih lanjut, ia berharap kondisi yang dialami para siswa tersebut dapat segera mendapat perhatian serius agar mereka bisa belajar di lingkungan sekolah yang lebih aman dan layak.“Harusnya ada perhatian. Nanti mungkin teman-teman di Komisi IV yang harus bersuara karena itu ranah pendidikan,” pungkasnya. (mell)