KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur mencatat sebanyak 600 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kalimantan Timur hingga Februari 2026. Angka tersebut tergolong tinggi, namun penanganan dinilai berjalan cukup baik dengan respons cepat dari fasilitas pelayanan kesehatan di seluruh daerah
Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin, mengatakan meski jumlah kasus meningkat, hingga akhir Februari tidak terdapat laporan akibat kematian DBD. “Kasus sampai Februari kemarin sekitar 600 dan Alhamdulillah tidak ada yang meninggal dunia. Ini menunjukkan sistem penanganan dan respon layanan kesehatan berjalan optimal,” ujarnya di Samarinda belum lama ini.
Ia menjelaskan, berbagai langkah antisipatif telah dilakukan untuk mencegah terjadinya kasus, terutama di wilayah endemis. Upaya tersebut meliputi penguatan sistem kewaspadaan dini, peningkatan surveilans, serta respons cepat terhadap temuan kasus di lapangan.
Selain itu, Dinkes Kaltim juga menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat terkait deteksi dan penanganan dini gejala DBD. Edukasi tentang pentingnya pemberantasan sarang nyamuk (PSN), menjaga kebersihan lingkungan, serta pelaksanaan fogging terfokus terus dilakukan.
Pemerintah daerah juga mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan sebagai langkah preventif utama. Masyarakat diimbau segera membawa anggota keluarga ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala DBD seperti demam tinggi mendadak, nyeri otot, sakit kepala, atau muncul bintik merah di kulit.
Sebagai bagian dari strategi pencegahan, Dinas Kesehatan Kaltim juga menyalurkan vaksin DBD jenis Qdenga sebanyak 6.170 dosis ke sejumlah kabupaten/kota di Kaltim. Alokasi terbesar diterima oleh Kabupaten Kutai Timur dengan total 4.470 dosis.
Penyaluran vaksin ini diharapkan dapat memperkuat perlindungan bagi kelompok rentan serta menekan tren peningkatan kasus DBD di Kalimantan Timur.
Dinkes Kaltim menegaskan, pengendalian DBD membutuhkan kolaborasi semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat, agar penyebaran penyakit dapat ditekan secara berkelanjutan. (*)
sumber: kaltimprov.go.id