KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA — Pemerintah Kota Samarinda memilih menghidupkan kembali denyut ekonomi Pasar Pagi tanpa menunggu peresmian. Di tengah proses penyempurnaan teknis, aktivitas jual beli mulai berjalan secara bertahap, memberi ruang bagi pedagang untuk kembali menggantungkan penghasilan.
Kebijakan ini diambil sebagai bentuk keberpihakan terhadap pedagang yang telah lama menunggu kepastian pascarevitalisasi pasar. Asisten II Setda Kota Samarinda, Marnabas Patiroy, menyebut sebagian besar kios pada tahap pertama telah diserahkan kepada pedagang. Dari total 1.804 kios yang disiapkan, distribusi hampir seluruhnya rampung.
“Sekitar 92 persen kios sudah diserahkan. Pedagang sudah menerima kunci dan bisa langsung berjualan,” katanya, Senin (5/1/2026).
Meski aktivitas pasar telah berjalan, proses penataan belum sepenuhnya selesai. Salah satu pekerjaan rumah yang masih dibenahi adalah kesesuaian zonasi antara pedagang grosir dan eceran, yang dinilai krusial bagi keberlangsungan ekosistem pasar.
Saat ini masih ditemukan pedagang eceran menempati lantai atas, sementara pedagang grosir berada di area yang semestinya diperuntukkan bagi eceran. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi daya saing pedagang kecil. “Kalau pedagang eceran bercampur dengan grosir, tentu berat. Skala usaha, harga, dan perputaran barangnya berbeda,” ujar Marnabas.
Untuk menata ulang kondisi tersebut, Pemkot Samarinda bersama Dinas Perdagangan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap data pedagang. Penyesuaian dilakukan terhadap pedagang yang penempatannya tidak sesuai klasifikasi usaha, baik akibat kekeliruan sistem maupun kesalahan input data.
Marnabas menjelaskan, pedagang yang difasilitasi pada tahap pertama merupakan mereka yang masih aktif dan memiliki Surat Keterangan Tempat Usaha Berjualan (SKTUB). Dokumen ini menjadi dasar legal penggunaan kios dan bersifat personal, sehingga tidak dapat dialihkan atau disewakan.
Secara keseluruhan, jumlah pedagang Pasar Pagi Samarinda tercatat sekitar 2.500 orang. Sekitar 700 pedagang lainnya direncanakan masuk dalam tahap kedua, termasuk pemilik SKTUB yang sudah tidak aktif serta pedagang yang masih menghadapi kendala administrasi. “Arahan Wali Kota jelas, selesaikan dulu tahap pertama agar pasar bisa berjalan. Kalau menunggu semua rampung, justru pedagang terlalu lama menunggu,” jelasnya.
Adapun peresmian pasar tetap akan dilakukan, namun Pemkot memilih menundanya hingga aktivitas pasar dinilai stabil dan seluruh pembenahan teknis terselesaikan.
“Yang utama saat ini pasar bisa berfungsi dengan baik. Peresmian akan menyusul setelah semuanya siap,” tutup Marnabas. (ns)