desain sukseskan kukar idaman terbaik

Rupiah Melemah, DPRD Ingatkan Harga Pangan Samarinda Paling Rentan Naik karena Bergantung Pasokan Luar Daerah

img 20260613 wa0007
Anggota Komisi II DPRD Samarinda, Joha Fajal. (Foto: mell/Kaltimvoice.id)

KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA — Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dinilai berpotensi pada kenaikan harga bahan pokok di Samarinda. Kondisi tersebut terjadi karena sebagian besar kebutuhan pangan masyarakat masih bergantung pada pasokan dari luar daerah yang proses distribusinya sangat bergantung pada biaya transportasi.

Anggota Komisi II DPRD Samarinda, Joha Fajal, mengatakan kenaikan harga pangan bukan terjadi secara langsung akibat melemahnya rupiah. Namun, tekanan terhadap nilai tukar berdampak pada meningkatnya biaya energi dan bahan bakar yang kemudian memicu kenaikan ongkos distribusi.

“Kalau dari sisi logika itu karena BBM karena belanjanya kita tidak menggunakan dolar, tapi karena pengaruhnya dolar itu kaitannya dengan minyak,” ujarnya.

Berdasarkan data terbaru per Sabtu (13/6/2026), nilai tukar rupiah yang sebelumnya berada di kisaran Rp15 ribu hingga Rp16 ribu per dolar AS kini telah menembus sekitar Rp17.800. Kondisi tersebut dinilai memberi efek berantai terhadap berbagai sektor, termasuk distribusi bahan pangan.

Joha menjelaskan, mayoritas kebutuhan pokok di Samarinda masih didatangkan dari luar Kalimantan Timur. Komoditas tersebut harus melalui jalur distribusi yang panjang, mulai dari pengangkutan menggunakan kapal hingga distribusi darat menggunakan armada truk yang seluruhnya bergantung pada bahan bakar minyak.

Akibatnya, setiap kenaikan biaya transportasi hampir selalu berimbas pada harga jual barang di tingkat konsumen. Menurutnya, kondisi itu menunjukkan ketergantungan terhadap pasokan luar daerah masih menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian serius.

“Dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS otomatis akan berpengaruh ke harga,” katanya.

Karena itu, ia menilai penguatan sektor pangan lokal menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi kerentanan Samarinda terhadap gejolak ekonomi global. Semakin pendek rantai distribusi, semakin kecil pula risiko kenaikan harga yang harus ditanggung masyarakat.

“Namun karena distribusi barang menggunakan transportasi yang bergantung pada bahan bakar, hal itulah yang memicu kenaikan harga,” terangnya.

Menurut Joha, selama kebutuhan pokok masih mengandalkan pasokan dari luar daerah, stabilitas harga pangan akan sangat dipengaruhi kondisi distribusi dan biaya logistik.

“Seandainya bahan pokok itu tidak memerlukan transportasi, mungkin harganya tidak akan naik.” pungkasnya. (mell/ADV9/dprdsamarinda)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *