KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Aksi jilid II Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Samarinda di Kantor PLN UP3 Samarinda, Kamis (5/11/2026), berakhir ricuh.
Penolakan massa terhadap tawaran audiensi yang hanya dibatasi 10 orang berujung aksi saling dorong dengan aparat kepolisian. m
Kericuhan terjadi setelah massa bersikeras masuk bersama-sama untuk meminta penjelasan PLN terkait pemadaman listrik bergilir. Situasi semakin memanas hingga polisi mengerahkan mobil water cannon untuk menyemprot massa aksi.
Kepala Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan, dan Pemuda HMI Cabang Samarinda, Muhammad Shefa, mengatakan demonstrasi kali ini turut diikuti perwakilan Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC-PPA) serta sejumlah ibu-ibu yang juga ingin menyampaikan keluhan akibat pemadaman listrik.
Ia menjelaskan, HMI sudah dua kali menyampaikan pemberitahuan bahwa massa ingin masuk bersama untuk menemui pihak PLN. Namun, tawaran audiensi hanya untuk 10 orang tidak diterima.
“Kami datang bersama, kami masuk bersama,” jelas Shefa usai aksi.
HMI sebenarnya tidak mempermasalahkan jika pertemuan kembali digelar di halaman parkir seperti aksi sebelumnya. Namun, mereka meminta PLN membuka data mengenai gangguan pembangkit yang menyebabkan pemadaman bergilir.
Bahkan, mahasiswa bersedia menerima penjelasan dalam bentuk dokumen cetak jika PLN belum bisa memaparkan langsung persoalan tersebut.
“Tapi nyatanya tidak ada respon yang sedemikian rupa sehingga terjadilah chaos (kacau) tadi di sana,” ujarnya.
Di tengah kericuhan, Ketua HMI Cabang Samarinda ikut terdesak hingga terjatuh dan terinjak. Ia kemudian dievakuasi menggunakan ambulans untuk mendapatkan penanganan.
“Ketua HMI Cabang Samarinda terdesak, terduduk, tengkurap, jatuh di sana dan ada pecah bibir dan lebam-lebam juga,” ungkapnya.
Shefa menilai aparat kepolisian bertindak represif terhadap massa aksi. Ia turut menyinggung Kapolsek Samarinda Ulu, yang berada di barisan aparat. Namun, menurutnya, ia tidak mampu menghentikan tindakan aparat yang dinilai represif terhadap massa.
HMI kini mengancam menggeruduk Polresta Samarinda jika tidak ada tindak lanjut atas insiden tersebut. Shefa menyebut pihaknya tengah mengumpulkan massa untuk menyampaikan sikap atas tindakan aparat yang mereka persoalkan.
“Oleh karena itu, kami sedang mobilisasi massa untuk geruduk Polresta Samarinda jika tidak ada tindak lanjut yang sesuai dengan kami harapkan,” tegasnya.
HMI Minta Manajer PLN UP3 Dicopot
Tak hanya menuntut pertanggungjawaban atas kericuhan, HMI juga kembali menyoroti belum adanya penjelasan terperinci dari PLN mengenai gangguan pembangkit. Bahkan, dalam aksi kali ini mereka menambah tuntutan dengan meminta Manajer PLN UP3 Samarinda, Adrian Sitompul, dicopot dari jabatannya.
Shefa menilai Adrian belum mampu memberikan jawaban atas tuntutan yang disampaikan HMI dalam aksi pertama pada 29 Oktober lalu.
“Kita meminta untuk mencopot Manajer PLN UP3 Samarinda Adrian Sitompul karena tidak mampu memberikan jawaban atas tuntutan kami minggu sebelumnya,” jelasnya.
Dua tuntutan lainnya yakni meminta PLN membuka persoalan sebenarnya yang terjadi pada pembangkit serta memberikan kompensasi kepada masyarakat Samarinda yang terdampak pemadaman bergilir.
HMI memastikan akan kembali mendatangi Kantor PLN UP3 Samarinda melalui aksi jilid III. Kali ini, mereka berencana mengajak lebih banyak masyarakat yang terdampak pemadaman untuk ikut menyuarakan tuntutan.
Sebelum kembali turun ke jalan, HMI akan mengumpulkan massa di sekretariat cabang dan menyampaikan pernyataan sikap terkait kericuhan serta tindakan aparat kepolisian.
“Kita akan rilis menyatakan sikap atas tindakan represifitas aparat kepolisian dan kami akan mobilisasi massa untuk geruduk PLN jilid 3,” pungkas Shefa. (mell)