desain sukseskan kukar idaman terbaik

Pabrik Pakan Loleng Jadi Titik Balik Ekonomi Desa, Hilirisasi Jospol Mulai Terasa di Lapangan

img 20251128 wa0012
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kaltim, Heni Purwaningsih. (ns/kaltimvoice)

KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA — Di tengah upaya Kalimantan Timur memperkuat struktur ekonomi daerah, sebuah langkah strategis tengah berjalan di Desa Loleng, Kecamatan Kota Bangun. Pemerintah Provinsi Kaltim mengembangkan sebuah pabrik pakan ternak yang dirancang sebagai pusat hilirisasi komoditas lokal dalam kerangka Program Jospol.

Alih-alih sekadar fasilitas produksi, pabrik tersebut disiapkan sebagai simpul ekonomi baru yang menghubungkan petani, koperasi, perguruan tinggi, dan pasar dalam satu alur kerja yang lebih terukur.

Menurut Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kaltim, Heni Purwaningsih, pembangunan fasilitas ini muncul dari kebutuhan untuk memutus ketergantungan petani jagung terhadap tengkulak, sekaligus memaksimalkan potensi samping dari industri sawit dan perikanan di sekitarnya.

Ia menjelaskan bahwa keberadaan komoditas jagung, bungkil inti sawit, cangkang, hingga limbah ikan membuat Desa Loleng berada pada posisi strategis untuk mengembangkan industri pakan bernilai tinggi. “Semua bahan itu tersedia sangat dekat sehingga hilirisasi bisa bekerja secara nyata,” ungkap Heni, Jum’at (28/11/2025).

Berbeda dengan proyek serupa yang biasanya dikelola swasta, pabrik ini berdiri di atas lahan hibah seluas satu hektare milik koperasi desa yang kini telah menjadi aset Pemprov. Status tersebut memungkinkan pemerintah memberi pendampingan penuh, mulai dari pembangunan, pengelolaan, hingga pembukaan akses pasar.

Pengoperasian pabrik akan dipercayakan kepada Koperasi Loleng, yang selama ini beranggotakan petani jagung dan pelaku usaha lokal. Penunjukan ini dinilai paling relevan karena koperasi tersebut berada di hulu rantai pasok bahan baku.

Dengan sistem ini, petani dapat memasok jagung langsung ke pabrik tanpa melalui tengkulak sehingga harga menjadi lebih stabil. Heni menegaskan bahwa model seperti ini memberikan dampak ganda: memperbaiki posisi tawar petani sekaligus memastikan pasokan bahan baku bagi industri pakan berjalan berkelanjutan. “Hilirisasi bukan hanya soal membangun pabrik, tetapi memastikan petani mendapat manfaat yang mereka rasakan langsung,” ujarnya.

Proses lelang pembangunan telah selesai sejak Juli lalu, dan konstruksi ditargetkan tuntas dalam tahun 2025. Kapasitas awal pabrik dirancang memproduksi lima ton pakan per hari, angka yang disebut cukup untuk menopang kebutuhan ternak unggas dan ruminansia di wilayah sekitar.

Selain mesin produksi, pemerintah menyiapkan gudang bahan baku, area penyimpanan, hingga fasilitas penunjang lainnya. Lokasinya yang berada di antara sentra sawit dan perikanan dinilai membuat alur logistik lebih efisien dan biaya produksi lebih rendah.

Tidak berhenti pada pembangunan fisik, DPPKUKM juga menurunkan pendamping khusus yang bertugas menghubungkan pabrik dengan pasar potensial. Pendamping ini memastikan produksi tidak berhenti di gudang, tetapi terdistribusi ke peternak dan unit usaha yang membutuhkan pakan berkualitas. Termasuk kebutuhan untuk program ternak ayam petelur probiotik yang kini mulai digencarkan.

Dengan pendekatan ini, Pemprov menargetkan terciptanya ekosistem hilirisasi yang dapat direplikasi di wilayah lain. Pabrik pakan Loleng dianggap sebagai bukti bahwa komoditas lokal memiliki nilai ekonomi lebih tinggi jika dikelola melalui jejaring koperasi dan industri. “Yang dibangun di Loleng bukan hanya pabrik, tapi fondasi ekonomi baru yang menghubungkan sektor hulu dan hilir secara langsung,” tuturnya. (Adv/DiskominfoKaltim/ns)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *