KALTIMVOICE, SAMARINDA – Kasus tewasnya Mustofa (38) di lubang bekas tambang batu bara milik Koperasi Putra Mahakam Mandiri (PMM), pada Jumat (12/9/), menyingkap persoalan serius soal lemahnya pengawasan pascaoperasi tambang di Samarinda Utara. Lubang tambang yang sudah tidak aktif sejak 2017 tetap terbuka tanpa pagar maupun rambu peringatan.
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalimantan Timur, Bambang Arwanto, melakukan inspeksi mendadak ke lokasi pada Sabtu (13/9/25). Ia menegaskan, lubang tersebut seharusnya sudah ditutup sesuai aturan.
“Ini adalah lokasi pertama yang dikerjakan pada 2017. Sebenarnya sudah main out dan seharusnya sudah ditutup,” ujarnya.
Bambang juga menyoroti tidak adanya tanda larangan di lokasi yang menyebabkan korban mudah mengakses area berbahaya itu. “Kita sudah cek, ternyata di sini tidak ada tanda-tanda atau rambu-rambu yang menjelaskan lokasi ini dilarang beraktivitas,” katanya.
Mustofa dilaporkan tenggelam saat berusaha mengambil mainan speed boat kendali jarak jauh (remote control) yang macet. Peristiwa ini, menurutnya, seharusnya menjadi peringatan keras. “Apalagi sudah terjadi kecelakaan seperti ini. Ini berbahaya dan sumber airnya pun belum diteliti kelayakannya untuk dikonsumsi,” tegasnya.
Dinas ESDM Kaltim telah memanggil pengawas tambang dan meminta pemasangan ulang rambu serta pagar pengaman. Meski pengawas tambang perusahaan beralasan masyarakat sering mengambil rambu-rambu yang sudah dipasang, Bambang menegaskan perlunya pengawasan berkala.
Inspektur Tambang ESDM Kaltim, Saudah menambahkan, upaya pengawasan sudah berjalan, tetapi tanggung jawab perusahaan tambang tetap krusial. “Tentu seharusnya ada tindak lanjut dari pihak tambang untuk memperbaiki kondisi ini,” imbuhnya.
Sementara itu, Pengawas Tambang Koperasi PMM, Rojali Rahman, mengakui adanya kelalaian. “Mungkin selama ini ada kelalaian dari kami, kurang pengawasan. Rencananya besok kami akan segera memasang kembali rambu-rambu dilarang masuk,” ujar Rojali.
Rojali juga mengungkap alasan lubang tidak ditutup karena airnya dimanfaatkan warga untuk sawah. “Kesalahan kami tidak ada hitam di atas putih. Jadi selama ini kami tidak melakukan penutupan karena airnya masih dipakai warga,” katanya.
Ia menambahkan, rambu bergambar buaya pernah dipasang, tetapi kerap dilepas oleh masyarakat. “Sudah ada, tapi dari masyarakat kadang-kadang dilepas,” pungkasnya. (yud)