KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Kekeringan menunda masa tanam petani di Makroman, Samarinda. Untuk menjaga 42 hektare sawah tetap bisa ditanami, BPBD Kota Samarinda mengalirkan air dari void eks tambang menggunakan mesin pompa berkapasitas besar.
Ketua Kelompok Tani (Poktan) Harapan Baru Makroman, Mat Kosim Kulup, mengatakan lahan yang sebelumnya mencapai 32 hektare kini berkembang menjadi sekitar 42 hektare yang dikelola bersama dua kelompok tani. Namun, kemarau membuat petani kesulitan mendapatkan air untuk memulai masa tanam berikutnya.
“Dulu sebenarnya bagus saja. Karena kemarau airnya kering, mau tidak mau kita harus minta bantuan mesin pompa air,” ujarnya, Senin (11/9/2026).
Kondisi tersebut belum sampai menyebabkan gagal panen, tetapi masa tanam berikutnya kini harus ditunda karena ketersediaan air belum mencukupi.
“Kalau yang kemarin sebenarnya tidak gagal panen. Cuma kita mau tanam lagi, tertunda karena tidak ada air,” jelasnya.
Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Makroman, Eli Susana, mengatakan penundaan sudah terjadi sejak awal September. Petani semestinya mulai mengolah lahan, namun pekerjaan itu terhambat karena sawah belum mendapatkan pasokan air.
“Harusnya awal bulan ini sudah mulai olah tanah, tapi karena tidak ada air ya terpaksa menunda,” kata Eli.
Padahal, produktivitas sawah di kawasan tersebut cukup tinggi. Dalam satu hektare, hasil panen diperkirakan mencapai 4,5 hingga 5 ton gabah.
Dengan masa tanam hingga panen yang membutuhkan waktu sekitar empat bulan, keterlambatan pengolahan lahan berpotensi ikut menggeser jadwal panen petani.

Karena itu, BPBD Samarinda turun langsung memasok air ke area persawahan. Kepala BPBD Kota Samarinda, Suwarso, mengatakan satu unit mesin pompa berukuran besar dikerahkan di Kelompok Tani Harapan Baru, dengan pipa berdiameter 6 inci.
“Harusnya sudah waktu masa tanam di awal September, tapi karena kondisi kekeringan maka ada keterlambatan suplai air,” kata Suwarso.
Sumber air yang digunakan berasal dari sekitar tiga void eks tambang di kawasan Makroman. Salah satunya memiliki kedalaman sekitar 70 meter dengan luas kurang lebih satu hektare dan dinilai masih mampu menyuplai kebutuhan pengairan sawah.
“Di daerah Makroman itu ada sekitar tiga void eks tambang yang sumber airnya cukup lumayan. Kita perhitungkan mampu mengairi beberapa sawah yang akan mempersiapkan untuk tanam,” ungkapnya.
Menurut Suwarso, penanganan kekeringan tidak hanya menyasar Makroman. BPBD bersama instansi terkait telah mengalirkan air ke tujuh titik persawahan dengan total luasan mencapai 207 hektare.
Selain Makroman sekitar 42 hektare, pengairan juga dilakukan di Betapus sekitar 30 hektare, Serayu 5 hektare, Rawa Makmur Palaran 25 hektare, Bukuan 10 hektare, Bantuas 25 hektare, dan Sambutan 70 hektare.
Untuk wilayah yang sumber airnya jauh dari persawahan, suplai dilakukan menggunakan mobil tangki. Sementara di Makroman, pompa dengan selang berdiameter besar digunakan agar air dapat dialirkan lebih cepat ke lahan.
Upaya tersebut akan terus diperluas ke kelompok tani lain yang membutuhkan, termasuk Kelompok Tani Karanganyar di Makroman.
“Ini tidak hanya soal kebakaran lahan atau air bersih. Yang paling utama ini menyangkut mata pencaharian warga Makroman, yaitu petani,” tegasnya.
Bagi petani, ketersediaan air menjadi penentu agar lahan kembali bisa diolah dan ditanami. Eli berharap suplai tersebut segera membuat sawah kembali terairi sehingga petani tidak semakin kehilangan waktu tanam.
“Harapannya kalau sawahnya terairi, bisa diolah, segera tanam. Karena memang teman-teman di sini menunggu air untuk tanam,” pungkas Eli. (mell)