KALTIM VOICE, SAMARINDA – Ketua Dewan Pendidikan Provinsi Kalimantan Timur, Adjrin, angkat bicara terkait mencuatnya polemik dugaan penjualan buku berjudul “Mengubah Nasib” karya Ketua DPRD Kaltim, Hasanuddin Mas’ud, di sejumlah sekolah. Dalam tanggapannya, Adjrin menekankan pentingnya memahami terlebih dahulu isi buku tersebut sebelum mengambil kesimpulan apapun, terutama menyangkut kepantasannya untuk masuk ke lingkungan pendidikan.
“Kita kan belum tahu isi bukunya nih. Kalau isi buku itu berkaitan dengan memberikan motivasi, ya boleh-boleh saja masuk ke sekolah, ke perpustakaan,” ujar Adjrin dalam pernyataan yang disampaikan kepada media, menanggapi informasi yang baru saja ia terima beberapa jam sebelumnya.
Menurut Adjrin, apabila buku tersebut memuat kisah hidup yang menginspirasi, seperti pengalaman pribadi sang penulis dalam menghadapi kesulitan hidup atau perjalanan dari latar belakang sederhana menuju posisi strategis di pemerintahan, maka keberadaannya justru bisa memberikan nilai tambah dalam pembelajaran karakter dan motivasi di lingkungan sekolah.
“Artinya orang mungkin bercerita, nih, bagaimana kehidupanku ini dulu, mungkin jadi supir taksi atau apa gitu ya. Karena kita belum tahu isi bukunya secara pasti,” tambahnya.
Adjrin mengaku baru mendapatkan kabar mengenai buku tersebut sekitar dua jam sebelum memberikan tanggapan kepada media. Ia menerima informasi dari rekannya melalui pesan singkat yang menyebut adanya buku yang dikabarkan dijual di sekolah-sekolah. Namun, Adjrin belum mendapat konfirmasi langsung dari pihak sekolah ataupun Dinas Pendidikan mengenai kebenaran hal tersebut.
“Saya baru juga dengar kabar, barusan 2 jam yang lalu, kiriman dari teman itu kan ada semacam buku yang katanya dijual. Buku apa itu Pak? Oh, buku Ketua DPRD Kaltim ya?” ujarnya
Ia pun menyampaikan bahwa pihaknya belum melakukan komunikasi langsung dengan kepala sekolah untuk mengklarifikasi informasi tersebut. Menurutnya, hal itu menjadi penting agar tidak muncul prasangka yang keliru dan informasi yang beredar tetap mengedepankan fakta.
“Kita belum tahu secara persis. Kita juga belum lagi kontak dengan beberapa kepala sekolah untuk mengetahui informasi yang sesungguhnya, gitu loh,” tegas Adjrin.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua Dewan Pendidikan juga menyoroti pentingnya etika dalam distribusi buku, apalagi jika menyangkut sosok pejabat publik. Ia menegaskan, meski secara substansi buku itu layak dibaca, distribusinya tidak boleh melanggar prinsip transparansi dan kesukarelaan.
“Mudah-mudahan bukan diperjualbelikan, gitu kan. Jadi sepakat untuk masuk ke perpustakaan saja, begitu Pak ya? Ya, kalau dia menginspirasi, memberikan motivasi,” pungkasnya.
Isu ini mencuat setelah beredar kabar bahwa buku “Mengubah Nasib” karya Ketua DPRD Kaltim, Hasanuddin Mas’ud, ditawarkan kepada sejumlah kepala sekolah di Kalimantan Timur.
Namun sebelumnya, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kaltim, Armin, telah memberikan klarifikasi bahwa proses distribusi buku tersebut merupakan inisiatif pribadinya, tanpa melibatkan institusi resmi. Ia membantah adanya paksaan atau keterlibatan dinas dalam mendorong pembelian buku, dan menyebut bahwa ia hanya menyarankan buku itu kepada kepala sekolah karena isinya yang dianggap inspiratif.