desain sukseskan kukar idaman terbaik

Kemarau Picu Kenaikan Kasus ISPA, Balikpapan Tertinggi di Kaltim dengan 66 Ribu Kasus

whatsapp image 2026 08 28 at 15.39.03
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim, Jaya Mualimin. (Foto: mell/Kaltimvoice.id)

KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Musim kemarau yang diperparah fenomena El Nino mulai berdampak pada kondisi kesehatan masyarakat di Kalimantan Timur. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim mencatat kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) mengalami kenaikan sekitar 10 hingga 20 persen.

Kepala Dinkes Kaltim, Jaya Mualimin, mengatakan kondisi tersebut berkaitan dengan cuaca panas dan banyaknya debu selama musim kemarau. Kondisi karhutla di sejumlah wilayah juga membuat persoalan asap turut menjadi perhatian.

“Memang sangat terkait dengan iklim karena debu banyak. Kemudian tambah ada cuaca yang panas, sehingga muncul infeksi saluran pernapasan,” ujar Jaya, Jumat (28/8/2026).

Berdasarkan data Dinkes Kaltim sejak Januari 2026, Balikpapan mencatat kasus ISPA paling tinggi dengan 66.468 kasus. Samarinda berada di urutan berikutnya dengan 48.230 kasus.

Selanjutnya, Kutai Kartanegara mencatat 29.453 kasus, Paser 22.284 kasus, Kutai Timur 22.032 kasus, dan Berau 20.549 kasus. Kemudian Penajam Paser Utara sebanyak 10.386 kasus, Bontang 7.670 kasus, Kutai Barat 7.562 kasus, serta Mahakam Ulu 1.482 kasus.

Jaya mengatakan angka tersebut berasal dari laporan puskesmas dan rumah sakit di masing-masing daerah. Perkembangan kasus dipantau melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) yang dilaporkan setiap hari.

“Setiap hari kita mendapatkan laporan itu 1×24 jam. Setiap hari melaporkan di aplikasi SKDR sehingga kita bisa mengompilasi,” jelasnya.

Meski terjadi peningkatan, Jaya menyebut kenaikan kasus ISPA saat ini belum signifikan. Angkanya masih berada pada kisaran 10 hingga 20 persen dan lebih banyak ditemukan pada anak-anak.

“Kalau kenaikannya mungkin belum signifikan, masih sekitar antara 10 sampai 20 persen,” katanya.

Di tengah kondisi tersebut, Jaya menyebut kasus ISPA tidak hanya berkaitan dengan asap karhutla. Debu yang meningkat selama kemarau, ditambah angin dan cuaca panas, menjadi kondisi yang turut diperhatikan Dinkes.

Untuk mengantisipasi dampak kesehatan, Dinkes Kaltim telah menindaklanjuti edaran Kementerian Kesehatan (Kemenkes) serta berkoordinasi dengan sejumlah kabupaten dan kota. Bantuan logistik, termasuk masker, juga telah dikirim ke wilayah yang terdampak karhutla seperti Berau dan Paser.

Dinkes Kaltim juga menyiapkan tim krisis untuk memantau perkembangan kasus kesehatan di tengah kondisi karhutla. Tim tersebut termasuk memantau apabila terjadi peningkatan kasus yang berkaitan dengan ISPA.

“Kita ada namanya tim krisis. Tim krisis yang kita siapkan dan mereka sudah bekerja. Termasuk memantau kegiatan peningkatan kasus-kasus termasuk kasus yang terkait dengan ISPA,” pungkasnya. (mell)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *