KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Antrean kendaraan di stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) kembali menjadi persoalan yang menyita perhatian masyarakat Kalimantan Timur.
Kendaraan harus mengular untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, sementara di sisi lain pemerintah menyebut stok yang tersedia sebenarnya masih mencukupi.
Kondisi itu turut menjadi perhatian Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud. Ia menyebut persoalan antrean BBM tidak hanya dirasakan masyarakat di Kaltim, tetapi juga terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan hingga Sulawesi.
“Berkaitan dengan BBM yang terjadi, saya rasa itu tidak terjadi hanya di Kalimantan Timur, tetapi di seluruh Kalimantan dan Sulawesi,” ujar Rudy, Senin (21/9/2026).
Ia menegaskan, panjangnya antrean bukan karena kurangnya pasokan BBM di Kaltim. Dari sisi penyaluran, kuota BBM bersubsidi pada hari ini justru disebut telah mencapai sekitar 10 persen di atas target yang ditetapkan pemerintah.
“Secara kuota untuk BBM bersubsidi hari ini, itu agaknya sudah mencapai 10 persen melampaui daripada target yang telah ditentukan oleh pemerintah. Stoknya cukup,” tegasnya.
Jika stok tersedia, persoalannya kemudian berada di mana? Rudy mengarahkan perhatian pada pelayanan SPBU yang dinilai belum mampu mengimbangi kebutuhan masyarakat.
Salah satunya berkaitan dengan waktu operasional. Menurut Rudy, SPBU semestinya dapat melayani masyarakat selama 24 jam, namun hanya beroperasi hingga pukul 22.00 Wita.
“Masalahnya adalah masalah persoalan dari SPBU-SPBU yang mestinya harus bisa beroperasi 24 jam, ini terpaksa hanya sampai dengan jam 10 malam saja,” ungkapnya.
Persoalan lainnya adalah jumlah SPBU yang belum merata. Rudy mencontohkan Balikpapan sebagai salah satu daerah yang masih minim SPBU, sehingga pilihan titik pengisian bagi masyarakat menjadi terbatas.
Menurutnya, penambahan SPBU juga bukan perkara sederhana. Minat pengusaha untuk membuka SPBU baru disebut masih rendah karena margin usaha yang tipis serta keterbatasan lahan, khususnya di Balikpapan.
“Memang beberapa wilayah seperti Balikpapan minim sekali SPBU, karena pengusaha SPBU tidak tertarik untuk melaksanakan bisnis daripada SPBU. Satu, tingkat marginnya yang tipis. Yang kedua, arealnya yang sempit di wilayah Balikpapan,” beber Rudy.
Kini masyarakat Kaltim tinggal menunggu bukti di lapanga apakah antrean panjang BBM bersubsidi benar-benar akan berakhir atau justru terus berulang. Pemprov Kaltim diharapkan bisa memastikan pelayanan di SPBU berjalan lebih lancar, sehingga stok yang disebut mencukupi itu benar-benar terasa manfaatnya bagi warga. (mell)