merah hitam putih modern berita terkini banner youtube

Bawang Merah Tembus Rp65 Ribu, Pasokan Kurang dari Sulawesi

img 20251220 wa0037
Pedagang bawang merah dan bawang putih di Pasar Segiri Samarinda. (ns/kaltimvoice)

KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Lonjakan harga bawang merah di Pasar Segiri Samarinda belum menunjukkan tanda-tanda mereda menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru. Kondisi ini mulai berdampak langsung pada pola belanja masyarakat, yang kini cenderung lebih selektif dalam membeli kebutuhan dapur.

Hasil pantauan di lapangan menunjukkan, harga bawang merah masih bertahan di kisaran Rp65 ribu per kilogram, jauh di atas harga normal yang sebelumnya berada di angka sekitar Rp35 ribu per kilogram. Sementara itu, harga bawang putih terpantau relatif stabil, hanya mengalami penyesuaian kecil dan tidak terlalu berpengaruh pada penjualan.

Kondisi ini sejalan dengan hasil inspeksi mendadak yang sebelumnya dilakukan Pemerintah Kota Samarinda di sejumlah pasar tradisional dan grosir. Dari pemantauan tersebut, bawang merah dan cabai menjadi komoditas yang mencatat kenaikan paling mencolok dalam beberapa pekan terakhir.

Salah seorang pedagang, Riani (52), yang telah puluhan tahun berjualan bawang di Pasar Segiri bersama suaminya Muhammad (53), mengatakan kenaikan harga bawang merah bukanlah fenomena baru dan sudah berlangsung hampir satu bulan terakhir. “Sudah sekitar sebulan ini harganya naik,” ujarnya, Sabtu (20/12/2025).

Menurut Riani, faktor utama mahalnya harga bawang merah disebabkan oleh keterbatasan pasokan dari daerah penghasil utama, khususnya Sulawesi. Ketergantungan pada satu wilayah produksi membuat harga mudah terdongkrak ketika hasil panen menurun. “Bawang merah di sini kebanyakan dari Sulawesi. Produksinya lagi kurang, itu yang bikin harga naik,” jelasnya.

Kata Riani, momen Natal dan Tahun Baru tidak memberi pengaruh besar terhadap lonjakan harga, berbeda dengan bulan Ramadan yang biasanya mendorong kenaikan jauh lebih tinggi. “Kalau Natal paling seminggu saja pengaruhnya. Beda kalau puasa, bisa sampai Rp120 ribu per kilo,” sambung Muhammad.

Harga yang tinggi membuat sebagian pembeli mengubah kebiasaan belanjanya. Jika sebelumnya konsumen biasa membeli satu kilogram, kini banyak yang memilih membeli seperempat kilogram, bahkan tak sedikit yang hanya sekadar menanyakan harga. “Jelas berkurang. Orang jadi mikir-mikir. Biasanya satu kilo, sekarang seperempat,” tutur Riani.

Menurut Muhammad, pergerakan harga bawang merah sepenuhnya bergantung pada ketersediaan produksi. Selama pasokan terbatas, harga cenderung sulit turun meskipun permintaan stabil.

“Kalau barang banyak, harga pasti stabil. Kalau produksinya kurang, ya mau tidak mau naik,” katanya.

Berjualan bawang sudah menjadi bagian dari kehidupan keluarga ini selama puluhan tahun. Muhammad mulai berdagang sejak 1986, disusul Riani pada 1994. Pengalaman panjang tersebut membuat mereka terbiasa membaca siklus naik-turun harga bahan pokok menjelang hari besar.

Meski demikian, para pedagang berharap harga segera kembali stabil agar aktivitas jual beli kembali normal dan beban masyarakat tidak semakin berat. “Kalau pedagang sebenarnya mau harga murah atau mahal bisa menyesuaikan. Tapi yang paling kena dampaknya itu masyarakat,” tutup Riani. (ns)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *