KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Proyek drainase di Simpang Cermai, Kelurahan Jawa, Kecamatan Samarinda Ulu, mulai dikerjakan. Pembangunan ini menjadi bagian dari rangkaian penanganan banjir di kawasan Pasundan yang dilakukan pemerintah secara bertahap sejak 2023.
Pengerjaan di titik tersebut berdampak pada arus lalu lintas di sekitar Jalan Gajah Mada dan Jalan RE Martadinata. Warga diminta bersabar dan menyesuaikan perjalanan selama pekerjaan berlangsung, sebab saluran yang dibangun menjadi jalur pembuangan air menuju Sungai Mahakam.
Lurah Jawa, Mukmin, mengatakan proyek di Simpang Cermai merupakan sodetan terakhir dari rangkaian pekerjaan drainase yang telah dilakukan sejak 2023. Sebelumnya, pembangunan dilakukan bertahap di kawasan Pasundan hingga Cermai.
“Ini adalah sodetan terakhir dari segmen 1 kita laksanakan kemarin di Pasundan. Segmen 1 di tahun 2023, kemudian segmen 2 di 2024, segmen 3 di 2025,” ujar Mukmin saat ditemui di Kantor Kelurahan Jawa, Rabu (2/9/2026).
Menurutnya, pekerjaan kali ini memiliki peran penting karena berada di bagian akhir sistem pembuangan. Saluran yang dibangun memiliki lebar sekitar 5 meter, lebih besar dibanding saluran pada tiga tahap sebelumnya yang berukuran sekitar 3 meter.
Tiga Tahap Drainase Mulai Kurangi Genangan
Mukmin menjelaskan, aliran air dari sejumlah kawasan di Kelurahan Jawa selama ini bermuara ke Pasundan. Karena bagian ujung saluran masih terbatas, pembuangan air belum maksimal meski pembangunan drainase telah dilakukan secara bertahap.

Kondisi tersebut mulai membaik setelah tiga tahap pekerjaan sebelumnya rampung. Mukmin menyebut waktu surut genangan kini jauh lebih cepat dibanding sebelum pembangunan drainase dilakukan.
Saat awal menjabat pada 2021, ia mengatakan genangan di kawasan Jalan Pasundan, khususnya sekitar bekas kantor kelurahan lama, bisa mencapai lutut orang dewasa saat hujan deras. Di Perumahan Pasundan Permai RT 39, ketinggian air bahkan bisa mencapai pinggang.
“Jadi kadang mobil-mobil diungsikan kalau di sana. Selama pengerjaan ini sudah tidak pernah lagi,” katanya.
Begitu pula dengan waktu surut. Jika sebelumnya genangan dapat bertahan empat hingga lima jam, bahkan sampai tengah malam, kini air disebut bisa surut sekitar satu jam setelah hujan berhenti.
“Paling satu jam, paling lambat satu jam biasanya. Sudah surut itu, sudah bisa beraktifitas. Dan kalaupun hujan sedang, hujan sedang saja itu tidak banjir kecuali deras betul hujannya,” ujarnya.
Meski demikian, sejumlah titik masih menjadi perhatian ketika hujan turun deras. Di antaranya kawasan depan Perumahan Pasundan Permai, sekitar Puskesmas, sisi Jalan Pasundan hingga Simpang Tiga Cermai, serta kawasan Ruko Pasundan yang berada di RT 29 dan RT 30.
Karena itu, Mukmin menilai sodetan di Simpang Cermai dibutuhkan untuk memperbesar kapasitas pembuangan air. Ia berharap setelah saluran tersebut terhubung hingga ke sungai, genangan di kawasan Pasundan dan sekitarnya dapat semakin berkurang.
Arus Lalu Lintas Direkayasa Bergantian, Warga Diminta Bersabar
Di tengah pengerjaan, persoalan lain yang harus dihadapi warga adalah perlambatan arus lalu lintas. Mukmin mengatakan pekerjaan di sekitar Bank BTN dilakukan secara bergantian agar kendaraan tetap dapat melintas.
“Rekayasa lalu lintasnya akan sama, nanti cuma pindah saja yang di depan yang paling sisi luar itu akan dibuka, yang sisi dalam nanti akan kita tutup. Nanti setelah sudah selesai dua-duanya, baru kita pindah ke Jalan Cermai,” jelasnya.
Rekayasa lalu lintas sebelumnya telah disosialisasikan kepada masyarakat. Mukmin mengatakan pihak kelurahan bersama kecamatan, kepolisian, Dinas Perhubungan (Dishub), Koramil dan sejumlah pihak terkait telah membahas pengaturan arus sebelum pekerjaan dimulai.
Masyarakat yang memiliki kepentingan di sepanjang Jalan RE Martadinata dan Jalan Gajah Mada juga diminta mempertimbangkan jalur alternatif, terutama pada pagi dan sore hari ketika arus kendaraan meningkat karena aktivitas sekolah dan jam pulang kerja.
Mukmin mengaku telah memantau langsung kondisi lalu lintas pada jam sibuk. Menurutnya, kepadatan paling terasa dari Simpang Gang Raudah hingga Simpang Cermai, sementara ruas setelahnya relatif lebih lancar. Pengaturan lalu lintas juga akan terus dipantau selama pengerjaan.
Pekerjaan drainase nantinya berlanjut ke Jalan Cermai. Pada tahap tersebut, ruas jalan direncanakan ditutup karena lebar jalan yang terbatas, sementara Jalan Gajah Mada dan RE Martadinata tetap digunakan untuk arus kendaraan.
Akses menuju kawasan Rumah Sakit Dirgahayu nantinya dapat menggunakan jalur Jalan Merbabu, Semeru dan Merapi. Sementara warung, penginapan dan usaha warga di sekitar lokasi tetap diupayakan dapat beraktivitas selama pekerjaan berlangsung.
Mukmin mengatakan pelaksana diminta bekerja secepat mungkin agar pembangunan tidak terlalu lama mengganggu aktivitas masyarakat. Berdasarkan pengalaman pekerjaan sebelumnya, setiap sekitar 10 meter saluran dapat dikerjakan dalam dua hingga tiga hari, meski dalam kondisi tertentu bisa mencapai lima hari.
“Jadi kita sama pelaksana harus gerak cepat. Karena kan ini artinya kita sebagai pelayanan masyarakat atau pelayanan publik kita tetap berjalan, masyarakat juga tetap, ekonominya tetap berjalan. Jadi tidak mengganggu,” jelasnya.
Menurut Mukmin, gangguan lalu lintas selama pekerjaan merupakan konsekuensi sementara dari pembangunan yang ditujukan untuk memperbaiki sistem pembuangan air di kawasan tersebut.
Ia berharap masyarakat dapat memahami kondisi itu dan menyesuaikan perjalanan hingga pekerjaan selesai.
“Kalau bisa selama kami melaksanakan pembangunan sampai Desember nanti, antar jemput anak ataupun bekerja, cari alternatif jalan,” pungkasnya. (mell)