merah hitam putih modern berita terkini banner youtube

Sudah Sebulan Sumur Kering, Warga Bayur Terpaksa Pakai Air Irigasi, BPBD Siapkan Bantuan Air Bersih

whatsapp image 2026 09 03 at 12.29.33
Warga memanfaatkan saluran irigasi di kawasan Bayur untuk kebutuhan sehari-hari setelah sumur mereka mengering. (Foto: mell/Kaltimvoice.id)

KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Sumur warga di kawasan Bayur, Kelurahan Sempaja Utara, Samarinda, mulai mengering setelah hampir dua bulan tak diguyur hujan. Sebagian warga kini memanfaatkan saluran irigasi untuk kebutuhan sehari-hari, sementara air untuk minum dan memasak harus dibeli.

Salah seorang warga, Sarino, mengatakan sumur gali yang selama ini digunakan sudah tidak lagi mengeluarkan air. Kondisi tersebut telah berlangsung sekitar sebulan terakhir.

“Air sumur gali sudah habis. Sudah sebulanan,” kata Sarino saat ditemui di lokasi, Rabu (2/9/2026).

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga kemudian mengambil air dari saluran irigasi yang mengalir dari kawasan pegunungan. Air tersebut digunakan untuk mandi, mencuci, keperluan toilet, hingga menyiram tanaman.

Namun, air irigasi tidak digunakan untuk konsumsi. Untuk kebutuhan minum, warga memilih membeli air galon.

“Ya kayak begini, untuk cuci, mandi, nyiram tanaman pakai air irigasi, kalau untuk minum tidak. Air minum kita beli,” ujarnya.

Ketua RT 38 Bayur, Hadri, menegaskan saluran yang dimanfaatkan warga tersebut merupakan saluran irigasi, bukan parit seperti informasi yang sempat beredar. Air dari kawasan pegunungan itu kini dimanfaatkan warga lantaran sumur mereka mulai mengering.

“Kalau ini kan kita pakai air irigasi, bukannya air parit. Nah, ini dari pegunungan ngalir ke sini,” kata Hadri.

Menurut Hadri, warga yang memanfaatkan aliran tersebut tidak hanya berasal dari RT 38. Ada pula warga dari RT 17 dan RT 18, sehingga total diperkirakan sekitar 20 keluarga kini mengandalkan saluran irigasi.

Sebagian warga masih memiliki sumur yang bisa dimanfaatkan, sementara sebagian lainnya membeli air dan menampungnya menggunakan tandon jika mampu.

Untuk keperluan mandi, air irigasi terlebih dahulu ditampung dan diendapkan semalaman sebelum digunakan, sementara untuk memasak dan minum sama sekali tidak dipakai.

Kondisi ini membuat warga berharap ada bantuan penampungan air dari pemerintah. Sarino menyebut keberadaan tandon akan membantu warga menampung air yang tersedia untuk kebutuhan sehari-hari.

“Kalau bisa minta bantuan-bantuan tandon dari pemerintah untuk menampung air,” harapnya.

Hadri turut menyebut pihaknya berencana bekerja sama dengan Koramil (Komando Rayon Militer) untuk membuat tempat pengendapan air, agar air yang tersedia dapat lebih mudah dimanfaatkan warga.

Di sisi lain, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda memastikan warga yang mengalami krisis air bersih dapat mengajukan bantuan.

Kepala Pelaksana BPBD Samarinda, Suwarso, mengatakan pihaknya menyiapkan suplai air bersih secara gratis, khususnya untuk kebutuhan minum dan konsumsi. Warga dapat menghubungi Call Center Pusdalops (Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana) BPBD Samarinda di 0811-5537-007.

“Apabila terjadi krisis air bersih, terutama untuk kebutuhan air minum atau dikonsumsi, komunikasi aja dengan call center, lalu kita akan suplai air bersih,” kata Suwarso.

BPBD tidak menyalurkan air ke setiap rumah tangga. Bantuan akan diarahkan ke tempat penampungan bersama agar dapat diakses warga di sekitarnya.

“Gratis, tapi tidak bisa per rumah tangga, harus di tempat umum yang masyarakat di sekitarnya bisa mengakses mengambil,” ujarnya.

Suwarso menjelaskan, mekanisme ini diterapkan karena BPBD juga harus membagi distribusi air ke sejumlah wilayah lain yang mengalami persoalan serupa. Saat ini, distribusi juga tengah berlangsung di Kecamatan Sambutan dan seluruh wilayah Kecamatan Palaran.

Ia berharap laporan kebutuhan air bersih disampaikan melalui kelurahan agar pendataan dan distribusi berjalan satu pintu, sehingga pengiriman air tidak terjadi berulang ke lokasi yang sama.

“Jadi tidak bisa kita melayani rumah tangga, Tapi misalnya ada tempat penampungan yang besar sehingga masyarakat bisa mengambil,” jelasnya.

Untuk mendukung distribusi, BPBD telah menyiagakan sejumlah armada, mulai dari mobil tangki Perumdam, PMI, BPBD, Damkar, hingga kendaraan dari Kementerian PUPR.

Suwarso menegaskan bantuan air tersebut diprioritaskan untuk kebutuhan konsumsi. Sementara untuk mandi dan kebutuhan lain, masyarakat masih dapat menggunakan sumber air yang tersedia selama kondisinya dinilai layak dan bersih.

“Memang air ini hanya untuk kepentingan dikonsumsi, bukan untuk MCK,” pungkasnya. (mell)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *